Senin, 10 Juni 2013

HISTORY OF XI GRADE



Perbedaan Sosialisme dan Komunisme


1.     Sosialisme

Istilah sosialisme atau sosialis dapat mengacu ke beberapa hal yang berhubungan dengan ideologi atau kelompok ideologi, sistem ekonomi, dan negara. Istilah ini mulai digunakan sejak awal abad ke-19. Dalam bahasa Inggris, istilah ini digunakan pertama kali untuk menyebut pengikut Robert Owen pada tahun 1827. Di Perancis, istilah ini mengacu pada para pengikut doktrin Saint-Simon pada tahun 1832 yang dipopulerkan oleh Pierre Leroux dan J. Regnaud dalam l'Encyclopédie Nouvelle. Penggunaan istilah sosialisme sering digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda-beda oleh berbagai kelompok, tetapi hampir semua sepakat bahwa istilah ini berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan buruh tani pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 berdasarkan prinsip solidaritas dan memperjuangkan masyarakat egalitarian yang dengan sistem ekonomi menurut mereka dapat melayani masyarakat banyak daripada hanya segelintir elite.

Sosialisme sebagai ideologi
Menurut penganut Marxisme, terutama Friedrich Engels, model dan gagasan sosialis dapat dirunut hingga ke awal sejarah manusia dari sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Pada masa pencerahan abad ke-18, para pemikir dan penulis revolusioner seperti Marquis de Condorcet, Voltaire, Rousseau, Diderot, Abbé de Mably, dan Morelly, mengekspresikan ketidakpuasan mereka atas berbagai lapisan masyarakat di Perancis.
Sejak abad ke-19, sosialisme telah berkembang ke banyak aliran yang berbeda, yaitu:
* Anarkisme, terutama Sosialisme libertarian
* Anarko-Sindikalisme
* Komunisme
* Marhaenisme
* Marxisme
* Sindikalisme
* Sosialisme Afrika
* Sosialisme Arab
* Sosialisme Demokratik
* Sosialisme International
* Sosialisme Kristen
* Sosialisme Utopia

Gerakan sosio-politik maupun intelektual dalam Marxis-Sosialis dapat dikelompokkan lagi menjadi:
* Albanianisme
* Komunisme konsiliasi
* Juche
* Kastroisme
* Komunisme kiri
* Leninisme
* Maoisme
* Marxis humanisme
* Situasionisme
* Stalinisme
* Trotskyisme

Sosialisme sebagai sistem ekonomi
Sistem ekonomi sosialisme sebenarnya cukup sederhana. Berpijak pada konsep Karl Marx tentang penghapusan kepimilikan hak pribadi, prinsip ekonomi sosialisme menekankan agar status kepemilikan swasta dihapuskan dalam beberapa komoditas penting dan menjadi kebutuhan masyarakat banyak, seperti air, listrik, bahan pangan, dan sebagainya.

Sejumlah pakar ekonomi dan sejarah telah mengemukakan beberapa masalah yang berkaitan dengan teori sosialisme. Diantaranya antara lain Milton Friedman, Ayn Rand, Ludwig von Mises, Friedrich Hayek, dan Joshua Muravchik.

Kritik dan keberatan tentang sosialisme dapat dikelompokkan menjadi:

* Insentif
* Harga
* Keuntungan dan kerugian
* Hak milik pribadi

2. Komunisme

Komunisme adalah salah satu ideologi di dunia, selain kapitalisme dan ideologi lainnya. Komunisme lahir sebagai reaksi terhadap kapitalisme di abad ke-19, yang mana mereka itu mementingkan individu pemilik dan mengesampingkan buruh.
Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan Marxisme. Komunisme adalah ideologi yang digunakan partai komunis di seluruh dunia. Racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut "Marxisme-Leninisme".
Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal dengan proletar, namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil jika bernaung di bawah dominasi partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi "tumpul" dan tidak lagi diminati.

Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata. Komunisme sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya, dan karenanya komunisme juga disebut anti liberalisme.

Komunisme sebagai ideologi mulai diterapkan saat meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917. Sejak saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke negara lain. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos.

Maoisme
Ideologi komunisme di Tiongkok agak lain daripada dengan Marxisme-Leninisme yang diadopsi bekas Uni Soviet. Mao Zedong menyatukan berbagai filsafat kuno dari Tiongkok dengan Marxisme yang kemudian ia sebut sebagai Maoisme. Perbedaan mendasar dari komunisme Tiongkok dengan komunisme di negara lainnya adalah bahwa komunisme di Tiongkok lebih mementingkan peran petani daripada buruh. Ini disebabkan karena kondisi Tiongkok yang khusus di mana buruh dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kapitalisme.

Indonesia dan komunisme
Indonesia pernah menjadi salah satu kekuatan besar komunisme dunia. Kelahiran PKI pada tahun 1920an adalah kelanjutan fase awal dominasi komunisme di negara tersebut, bahkan di Asia. Tokoh komunis internasional seperti Tan Malaka misalnya. Ia menjadi salah satu tokoh yang tak bisa dilupakan dalam perjuangan di berbagai negara seperti di China, Indonesia, Thailand, dan Filiphina. Bukan sperti Vietnam yang mana perebutan kekuatan komunisme menjadi perang yang luar biasa. Di Indonesia perubuhan komunisme juga terjadi dengan insiden berdarah dan dilanjutkan dengan pembantaian yang banyak menimbulkan korban jiwa. Dan tidak berakhir disana, para tersangka pengikut komunisme juga diganjar eks-tapol oleh pemerintahan Orde Baru dan mendapatkan pembatasan dalam melakukan ikhtiar hidup mereka.


PERKEMBANGAN PAHAM-PAHAM BARU DAN PENGARUHNYA TERHADAP KESADARAN DAN PERGERAKAN NASIONALISME DI INDONESIA


A.    Munculnya Paham Nasionalisme, Demokrasi, Liberalisme, Sosialisme, Komunisme, Serta Pan Islamisme
1.      Nasionalisme
a.       Pengertian
-          Menurut Otto Bouer, nasionalisme muncul karena adanya persamaan sikap dan tingkah laku dalam memperjuangkan nasib yang sama, sedangkan
-          Hans Kohn berpendapat bahwa nasionalisme adalah suatu paham yang menempatkan kesetiaan tertinggi individu kepada Negara dan bangsa. Semen
-           Ernest Renant menyatakan, nasionalisme ada ketika muncul keinginan untuk bersatu
Tumbuh dan berkembangnya nasionalisme modern, pada dasarnya disebabkan karena struktur sosial tradisional dengan sistem hubungan yang didasarkan pada persamaan–persamaan yang bersifat primordialistik itu dipandang tidak cocok lagi dengan perkembangan keadaan alam dan zaman karena basis dasarnya dinilai terlalu konservatif dan dapat menimbulkan halhal yang bersifat chauvinistik atau nasionalisme yang berlebihan, antagonistik, serta ketertutupan negara terhadap pengaruh Negara lain. Selain itu, sebab lain lahirnya nasionalisme adalah penaklukan negara bangsa lain oleh negara tertentu yang mengakibatkan kesengsaraan bagi masyarakat negara bangsa yang ditaklukan.
2.      Demokrasi
Demokrasi berasal dari kata demos yang artinya rakyat, dan kratos yang berarti pemerintahan. Jadi, demokrasi berarti pemerintahan “dari rakyat untuk rakyat”. Prinsip-prinsip yang mendasari ide demokrasi adalah konstitusionalisme, kedaulatan rakyat, aparat yang bertanggungjawab, jaminan kewajiban sipil, pemerintah berdasarkan undang-undang, dan asas mayoritas Demokrasi sudah ada pada jaman Yunani kuno, yang dikenal dengan demokrasi langsung, dimana rakyat seluruhnya bias langsung atau memutuskan suatu perkara. Hal ini dimungkinkan karena saat itu di Yunani masih berbentuk negara-kota (polis) yang penduduknya sekitar 30 orang per polis. Pada Revolusi Amerika tahun 1776 dalam Declaration of Independence, menyatakan bahwa tidak ada kekuasaan yang adil tanpa persetujuan rakyat
3. Liberalisme
Liberal berasal dari kata “liberty”, yang berarti kebebasan. Kebebasan dalam arti kemerdekaan pribadi, hak untuk mendapatkan perlindungan, dan kebebasan dalam menentukan sikap. Liberalisme adalah suatu aliran pemikiran yang mengharapkan kemajuan dalam berbagai bidang atas dasar kebebasan individu yang dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya sebebas mungkin, Beberapa tokoh yang bisa dianggap sebagai penganut dan yang mengembangkan paham liberalisme, yaitu:
a.       John Locke. Menurut pendapatnya, negara terbentuk dari perjanjiann sosial antara individu dengan yang hidup bebas dengan penguasa.
b.      Montesquieu. Dalam bukunya spirit the law, terdapat pemisahan kekuasaan dalam pemerintahan yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Tujuannya agar terdapat pengawasan antar lembaga agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang
4. Sosialisme
Sosialisme ialah paham yang menghendaki suatu masyarakat dibentuk secara kolektif (oleh kita, untuk kita). Titik berat dari paham ini ada pada masyarakat, bukan individu. Dan dalam hal ini sosialisme merupakan lawan dari liberalisme. Pada awalnya sosialisme muncul sebagai reaksi atas liberalisme abad ke-19. Pendukung liberalisme adalah kelas menengah (middle class), yang oleh Karl Marx disebut kaum “borjuis”. Kelas menengah ini adalah memiliki industri, perdagangan dan memiliki pengaruh dalam masyarakat dan pemerintah. Ketertindasan kaum buruh oleh para pemilik modal (kapital) menimbulkan reaksi golongan kelas menengah, yang sampai sekarang dikenal dengan istilah gerakan sosialisme. Tujuannya menghilangkan pertentangan antar kelas, kelas buruh dan pemodal. Oleh Marx, sosialisme dikembangkan menjadi komunisme.
5. Komunisme
Paham ini lahir dari gagasan Karl Marx yang kemudian didengungkan dan diperkenalkan oleh sahabat Marx, Friedrich Engels. Paham ini kemudian dikembangkan oleh Lenin, pemimpin Uni Soviet. Dengan demikian, terkadang komunisme disebut juga ajaran Marxisme atau Leninisme. Marxisme adalah ajaran yang sangat menjiwai gerakangerakan sosialis-komunis dengan filsafat yang materialistis (historis materialisme) dan dialektis materialisme serta perjuangan kelas. Ajaran ini diteruskan oleh Vladimir Lenin menjadi paham Marxisme-Leninisme yang di Indonesia dilarang oleh pemerintahan Orde Baru. Pada awalnya marxisme adalah ilmu sejarah yang terdiri atas suatu sistem konsep-konsep ilmiah baru yang memberikan kemungkinan mempelajari sejarah sebagai sebuah ilmu, yang sebelumnya hanya menjadi ideologi atau filsafat sejarah, bukan ilmu yang mandiri. Oleh Marx, paham ini disebut “materialism sejarah” atau “materialisme historis”, sedangkan oleh Engels disebut materialisme dialektis. Yang terpenting dalam ajaran Marx adalah perjuangan kelas, ajaran basis-superstruktur masyarakat, dan revolusi. Menurut Marx, sejarah manusia adalah sejarah yang berisi peperangan antarkelas. Gerakan kaum buruh merupakan ekspresi dari perang tersebut karena kaum buruh sangat menghendaki penghapusan kelas sosial. Kaum buruh menuntut agar pendapatan ekonomi semua manusia rata. Kaum kapitalis ingin meningkatkan keuntungan dengan menekan biaya produksi, sedangkan kaum proletar ingin meningkatkan pendapatannya
6.      Pan Islamisme
Pan Islamisme merupakan penjelmaan modern dari ajaran tradisional Islam mengenai persatuan antarumat Islam (al wahdah al-Islamiyyah atau al-ittihad al-Islamiyyah). Ajaran ini menyebutkan bahwa kaum muslim termasuk ke dalam umat Islam universal, di mana pun mereka berada. Persatuan pan- Islamisme mengatasi berbagai perbedaan bahasa, budaya, atau etnis di kalangan muslim. Penyeru awal gerakan pan-Islamisme adalah Sultan Abdul Hamid II yang menguasai Kesultanan Usmani pada 1876 hingga 1909. Ia berusaha mempersatukan Islam di bawah panji Usmani, namun setelah Usmani runtuh, pan-Islamisme pun redup Pan Islamisme didengungkan kembali setelah kaum muslim terpecah-belah pada akhir abad ke-19 dan ketika itu sebagian besar negeri muslim berada dalam cengkeraman kolonialismeimperialisme. Menurut salah seorang penganjurnya, Jamaluddin al-Afgani (1838-1897), keadaan kaum muslim yang tercerai-berai itu merupakan salah satu kelemahan kaum muslim. Berkat peran Jamaluddin al-Afgani dalam kehidupan politik dan keagamaan di banyak wilayah Islam (Turki, Mesir, India, Iran, dan Asia Tengah), pan-Islamisme benar-benar menemukan personifikasi (model atau perumpamaan) dan juru bicara yang kuat. Afgani menyadari bahwa umat muslim secara keseluruhan tengah terancam oleh kolonialisme. Maka dari itu persatuan yang kuat harus digalakkan di kalangan umat 
B.    Perkembangan Paham-Paham Baru Dan Pengaruhnya Terhadap Kesadaran Dan Pergerakannasionalisme Di Indonesia
 1.      Latar Belakang Munculnya Paham  Dan Kesadaran Nasional
Faktor internal
  1. Penjajahan
  2. Adanya kenangan  kejayaan  masa lalu
  3. Timbulnya kaum cerdik   pandai / lahirnya golongan  terpelajar ( mendapat pendidikan  Barat dan Islam di luar Negeri )
  4. Kesadaran bangsa  ( ingin hidup bebas dan merdeka )
  5. Menyebarnya paham-paham  baru ( demokrasi, komunisme, Liberalisme dan sosialisme )
 Faktor Eksternal
  1. Kesadaran pentingnya semangat Kebangsaan/nasionalisme
  2. Timbulnya anti imperialisme
  3. Peristiwa Perang Dunia ( kesadaran menentukan nasib sendiri
  4. Adanya Revolusi Perancis Lahirnya nasionalisme   di Asia-Afrika
  5. Adanya  Kemenangan Jepang  atas Rusia (1905)
2.      Tujuan Nasionalisme atau  Semangat Kebangsaan
a.       Mempertahankan negara sendiri
b.      Menghilangkan bentuk ekstrimisme ( tuntutan yang  berlebihan ) dari  Individu  atau kelompok
3.      BENTUK PERGERAKAN NASIONAL
    Perlawan bangsa Indonesia diawal abad ke-20 tidak lagi dilakukan dengan  peperangan, tetapi dengan cara melalui organisasi-organisasi yang bergerak dibidang sosial, budaya, ekonomi dan  politik. Organisasi tersebut,  disebut organisasi Pergerakan Nasional ( bentuk Perlawanan terhadap kaum penjajah ) dengan ciri-Ciri :
  1. Keanggotaan tidak berdasarkan suku tertentu
  2. Pemimpin berasal dari kalangan terdidik
  3.  Mempunyai tujuan yang jelas
  4. Memiliki paham kebangsaan atau nasionalisme  Nasionaslisme bangsa Indonesia mengalami perkembangan yang pesat Setelah berdirinya Budi Utomo
Strategi perjuangan disesuaikan dengan ciri khas masingmasing organisasi. Secara umum, strategi itu dapat dibedakan atas
-           Kooperatif :  bersedia bekerja sama dengan pemerintahan Belanda dan
-          Nonkooperatif : menolak kerja sama dengan pemerintah Belanda).
 Bagi sebagian organisasi strategi itu relatif sifatnya, disesuaikan dengan situasi yang dihadapi (bersifat pragmatis). Pada masa tertentu mereka bersikap kooperasi, tetapi pada masa yang lain bersikap nonkooperasi. Walaupun dua strategi namun tujuan akhir semua organisasi itu sama, yakni mencapai kemerdekaan

A.     Budi Utomo (1908)
 Politik etis yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda membawa dampak munculnya priyayi Jawa yang “baru” atau priyayi rendahan, mereka memiliki pandangan bahwa kunci dari kemajuan adalah pendidikan.kelompok inilah yang kemudia dianggap sebagai kelompok pembentuk organisasi pergerakan yang benar-benar modern. Dilatarbelakangi kondisi ekonomi yang buruk di Jawa, dr. Wahidin Sudiro Husodo pada tahun 1906-1907 barkeliling pulau jawa, untuk memberikan penerangan tentang cita-citanya kepada para pegawai Belanda dan dalam berusaha mencari dana untuk beasiswa bagi pelajar Indonesia yang kurang mampu tapi cakap, dr. wahidin berkeinginan untuk mendirikan badan pendidikan. yang di sebut Studifonds. Usaha dr. Wahidin tidak mendapatkan tanggapan yang positif dari pegawai pemerintahan Belanda. Namun usahanya mendapat respon dari para pelajar. Usaha beliaulah yang merupakan pendorong bagi pelajar, untukmendirikan organisasi.
Organisasi Budi Utomo berdiri tanggal 20 Mei 1908 oleh para mahasiswa Sekolah Kedokteran (STOVIA) di Jakarta, yaitu Sutomo, Suraji, Gunawan Mangunkusumo. Budi Utomo (BU) ini sejak awal sudah menetapkan bidang pendidikan sebagai pusat perhatiannya, dengan wilayah Jawa dan Madura sebagai sasaran. Pro dan kontra selalu mewarnai dalam kehidupan berorganisasi, tak terkecuali BU. Yang kontra mendirikan organisasi tandingan Regent Bond, yang anggota-anggotanya berasal dari kalangan bupati penganut status quo yang tidak menginginkan perubahan. Sedang yang pro, antara lain Tirto Kusumo, merupakan kalangan muda yang berpikiran maju.
 B.     Sarekat Islam (1911)
Monopoli pedagang Cina dalam penjualan bahan baku dirasakanoleh pengusah batik Indonesia di Solo sangat merugikan. Pedagang Cina seringkali mempermainkan harga, yaitu dengan menjual bahan tersebut sedikit demi sedikit. Keadaan itu mendorong H. Samanhudi di Solo, mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) yang bersifat kooperatif pada tahun 1911. Karena sifatnya yang merakyat dan pertumbuhannya yang pesat, pada 1912 atas usul Haji Oemar Said Cokroaminoto, namanya diubah menjadi Sarekat Islam. Tujuannya pun diperluas lagi, antara lain:
1.      memajukan semangat dagang bangsa;
2.       memajukan kecerdasan dan kehidupan rakyat menurut perintah agama Islam;
3.       menghilangkan paham-paham yang keliru tentang agama Islam;
4.       mempertebal rasa persaudaraan dan saling tolong menolong.
Pada 26 Januari 1913 diadakan kongres Sarekat Islam yang pertama di Surabaya, yang dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto. Dalam kongres ini ditegaskan: SI bukan partai politik dan tidak bereaksi melawan Belanda. Kongres kedua diselenggarakan di Solo. Dalam kongres ini ditegaskan lagi bahwa SI terbuka hanya untuk bangsa Indonesia rakyat biasa, sementara pegawai pangreh praja (yang bekerja pada instansi pemerintah kolonial) tidak boleh masuk. Pada tahun 1915 di Surabaya didirikan Central Sarekat Islam (CSI). Tujuannya untuk membantu SI daerah. Pada tanggal 17-24 juni 1916 diadakan kongres SI ketiga di Bandung, yang diberi nama Kongres Nasional pertama. Dalam kongres itu, 80 cabang SI daerah mengirimkan utusan yang mewakili 360.000 anggota. Sedangkan jumlah anggota seluruhnya 800.000 orang dan terus meningkat hingga pada tahun 1919 anggotanya telah mencapai 2.250.000 orang. Namun, karena perbedaan ideologi dan taktik yang dianut, dalam perkembangannya berikutnya SI pecah menjadi dua kelompok, yakni:
1.      SI Putih, yang berlandaskan pada asas perjuangan yang semula, yaitu Islam; dipimpin H.O.S. Cokroaminoto;
2.      SI Merah, yaitu kelompok anggota SI yang berhaluan sosialis kiri yamg ingin bergerak secara radikal dan revolusione; dipimpin oleh Darsono dan Semaun yang berasal dari kader ISDV. ISDV adalah akronim dari Indische Sociaal Democratische Vereniging, organisasi berhaluan Marxisme yang didirikan oleh sekelompok sosialis Belanda. Pada tahun 1923 SI meninggalkan sikap kooperatif, menjadi nonkooperatif dengan mengubah namanya menjadi Partai Sarikat Islam (PSI), kemudian pada tahun 1930 diubah menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII).
 3.      Taman Siswa (1922)
Sejak dilaksanakan Politik Etis, pertambahan sekolah cukup banyak. Akan tetapi, jumlah tersebut sangat tidak seimbang dengan jumlah penduduk Indonesia. Sementara itu, secara garis besar metode pendidikan yang diterapkan pemerintah tidah memberi peluang bagi tumbuhnya kebebasan berpikir. Siswa didik tidak dibimbing untuk kreatif dan berkreasi. Dari sanalah muncul usaha-usaha untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada, salah satunya adalah dengan berdirinya Taman Siswa. Taman Siswa didirikan oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Dalam melaksanakan pendidikan, taman siswa berpedoman pada pernyataan asas yang disusun pada tahun 1922. Pernyataan asas itu mengandung dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk mengatur diri sendiri. Hal itu berarti mendidik siswa untuk berpikir, berbuat, bekerja, dan berperan dalam batas-batas tujuan bersama yang tertib dan damai. Taman Siswa memiliki sistem pendidikan yang dinamakan dengan Tut Wuri Handayani, yakni bahwa dalam sistem ini guru bertindak sebagai pemimpin yang berdiri di belakang, tetapi mempengaruhi dan memberi kesempatan kepada anak didik untuk berjalan sendiri.
4.      Muhammadiyah
Gerakan Muhamadiyah didirikan oleh H. Ahmad Dahlan diYogyakarta pada tanggal 18 November 1912. Asas perjuangannya adalah Islam dan kebangsaan Indonesia. Muhammadiyah bergerak dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial budaya yang menjurus kepada tercapainya kebahagiaan lahir & batin. Tujuan pokoknya ialah: menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Tujuan-tujuan Muhammadiyah yang sifatnya operasional, antara lainnya:
1.      mengembalikan pendidikan dan pengajaran yang berlandaskan agama Islam;
2.       mengembalikan ajaran Islam sesuai Qur’an dan Hadis dan membolehkan adanya ijtihad
3.       mengajak umat Islam untuk hidup selaras dengan ajaran agama Islam;
4.       berusaha meningkatkan kasejahteraan hidup umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya;
5.       menyantuni anak yatim piatu;
6.      membina dan menyiapkan generasi muda agar kelak dapat menjadi pemimpin-pemimpin masyarakat, agama, dan bangsa yang adil dan jujur. Karena merupakan gerakan reformasi Islam, Muhammadiyah tidak menghendaki adanya bid’ah, takhayul, klenik, dan taqlid. Di
antara sekian usaha itu yang paling menonjol adalah usaha di bidang pendidikan dan sosial, ditandai dengan banyaknya sekolah-sekolah
 5.      Nahdlatul Ulama (NU)
Pusat penyebaran agama Islam di kota maupun di desa dikenal dengan nama pesantren. Tamatan pesantren diharapakan dapat mendirikan pesantren di tempat lainnya. Pada umumnya pesantren yang berpusat di pedesaan menjadi pusat pengajaran agama Islam yang sudah tua sekali, sedangkan pusat pengembangan Islam di kota biasanya datang kemudian dan menjadi pusat pembaruan Islam. Dapat dikatakan bahwa pusat agama Islam dan pengikutnya di pedesaan adalah para ulama dan santri tradisionalis dan mereka yang tinggal di kota adalah pengikut modernis. Jadi, wadah gerakan Islam tradisionalis sebenarnya sudah ada sejak lama. Makin meluasnya gerakan Islam baru di kota-kota seperti yang dilakukan oleh Sarekat Islam dan Muhammadiyah, berarti mengurangi ruang gerak umat Islam di pedesaan. Untuk menampung dan memberikan wadah di pedesaan perlu dibentuk organisasi yang secara resmi mengikat anggotanya untuk mencapai tujuan tertentu. Sementara itu, pada tahun 1926 di Hejaz, Arab Saudi, diselenggarakan Kongres Islam sedunia. Untuk menghadiri kongres itu masing-masing lembaga mengirim delegasinya hingga terbentuk delegasi Hejaz. Para ulama terkemuka terus membahas pemberian nama lembaga itu dan akhirnya Jam’iyatul Nahdlatul Ulama pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya. Delegasi Komite Hejaz mewakili NU. Delegasi itu sudah sah karena dikirim oleh sebuah organisasi Islam. Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Para Ulama) adalah organisasi sosial keagamaan atau Jamiyyah Diniyah Islamiyah yang didirikan oleh para ulama, yaitu K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Abdullah Wahab Hasbullah, K.H. Bisri Syamsuri, K.H. Mas Alwi, dan K.H. Ridwan. Mereka pemegang teguh pada salah satu dari empat mahzab, berhaluan Ahlussunnah waljama’ah. Tujuannya tidak saja mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam, tetapi juga memperhatikan masalah sosial, ekonomi, dan sebagainya dalam rangka pengabdian kepada umat manusia. Pada dasarnya Nahdlatul Ulama tidak mencampuri urusan politik dan dalam kongresnya pada bulan oktober 1928 di Surabaya diambil keputusan untuk menentang reformasi kaum modernis dan perubahan yang dilakukan wabahi di hejaz. Kaum Islam reformis dalam beberapa hal bersikap seperti kaumnasionalis yang tidak mengaitkan agama, misalnya dalam masalahperkawinan, keluarga, kedudukan wanita, dan sebagainya. Pusatpusat NU ada di Surabaya, Kediri, Bojonegoro, Bondowoso, dan Kudus. Pada tahun 1935 NU sudah memilki 68 cabang dengan anggotanya 6.700 orang.Di dalam Kongres NU di Menes (Banten) tahun 1938, jelas NU berusaha meluaskan pengaruhnya di seluruh Jawa. Pada kongres tahun 1940 di Surabaya diputuskan berdirinya bagian wanita, Nahdlatul Ulama Muslimat dan bagian Pemuda Anshor (sudah dibentuk beberapa tahun sebelumnya). Pemuda Anshor didirikan berdasarkan pan Islamisme. Oleh karena itu, Anshor berhaluan Internasional.
 6.      Ahmadiyah
Gerakan Ahmadiyah Indonesia didirikan oleh Mirza Wali Ahmad Beid pada bulan September 1929. Organisasi itu berdasarkan pada Al-Quran sebagai kitab suci yang menjadi muhammad adalah nabi penutup dan manusia harus mengikuti contoh perbuatannya, dan mengaku adanya pembaharu (mujaddid) setelah Nabi Muhammad. Ahmadiyah muncul karena adanya pengaruh dari Ahmadiyah di Kadian India yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai mujaddid pada tahun 1884. Ahmadiyah menekankan kewajiban manusia untuk bertindak baik dengan penuh persaudaraan, hormat-menghormati, ramah, dan sebagainya. Pada tahun 1908 terjadi perpecahan karena salah seorang pemimpinnya, Kwayah Kamaludin mendirikan Ahmadiyah berpusat di Lahore. Ahmadiyah Kadiyan, dan Lahore sangat besar pengaruhnya di Indonesia dan Yogyakarta dijadikan pusatnya. Ahmadiyah di Indonesia tidak mencampuri urusan politik dan hanya mempersoalkan prinsip keagamaan dalam Islam. Pengaruh Ahmadiyah di kalangan pemuda dan pelajar yang berpendidikan barat cukup kuat
7.      Gerakan Pemuda yang Bersifat Kesukuan dan Keagamaan
a.      Trikoro Dharmo/Jong Java
Gerakan pemuda Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak berdirinya Budi Utomo. Sebab para pendiri Budi Utomo sebenarnya para pemuda yang masih menjadi murid-murid STOVIA. Namun sejak kongresnya yang pertama, Budi Utomo telah diambil alih kaum priyayi (bangsawan) dan para pegawai negeri, sehingga para pemuda kecewa lalu keluar dari Budi Utomo. Pada 7 Maret 1915, para pemuda keluaran Budi Utomo mendirikan organisasi pemuda yang disebut Trikoro Dharmo di Jakarta. Para pemimpinnya antara lain: R. Sukiman Wiryosanjoyo (Ketua), Sunardi-Wongsonegoro (wakil ketua), Sutomo (Sekretaris). Sementara itu, para anggotanya: Muslich, Musodo, dan Abdul Rachman. Yang diterima sebagai anggota hanya anak-anak sekolah menengah yang berasal dari pulau Jawa dan Madura. Trikoro Dharmo artinya “Tiga Tujuan Mulia”, yaitu: sakti, budi, dan bakti. Adapun tujuan organisasi ini ialah:
1.      mempererat tali hubungan, antara murid-murid bumi putera pada sekolah menengah dan perguruan kejuruan;
2.       menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya;
3.      membangkitkan dan mempertajam perasaan buat segala bahasa dan kebudayaan Hindia;
4.      memperkokoh rasa persatuan dan persatuan di antara pemuda-pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali dan Lombok;
Pada tahun 1918 lewat kongresnya yang pertama di Solo, nama Trikoro Dharmo diubah menjadi Jong Java. Hal ini dimaksudkan agar para pemuda di luar Pulau Jawa, tata sosialnya berdasarkan budaya Jawa akan mau, memasuki Jong Java. Kegiatan Jong Java berkisar pada masalah sosial dan kebudayaan, misalnya pemberantasan buta huruf, kepanduan, kesenian. Jong Java tidak ikut terjun dalam dunia politik dan tidak pula mencampuri urusan agama tertentu. Bahkan para anggotanya dilarang menjalankan politik atau menjadi anggota partai politik. Akan tetapi, sejak
tahun 1942, karena pengaruh gerakan radikal, maka Syamsuridjal (ketuanya) mengusulkan agar anggota yang sudah berusia 18 tahun diberi kebebasan berpolitik dan agar Jong Java memasukkan program memajukan agama Islam. Usul ini ditolak, akibatnya para anggotanya yang menghendaki tujuan ke dalam dunia politik dan ingin memajukan agam Islam mendirikan Jong Islamieten Bond. Organisasi ini dipimpin Haji Agus Salim.
b.      Jong Sumatranen Bond (9 Desember 1917)
Setelah Jong Java, para pemuda Sumatera yang belajar di Jakarta, pada tanggal 9 Desember 1917 mendirikan organisasi serupa yang disebut Jong Sumatranen Bond. Adapun tujuannya adalah:
1.      mempererat ikatan persaudaraan antara pemuda-pemuda pelajar Sumatra dan membangkitkan perasaan bahwa mereka dipanggil untuk menjadi pemimpin dan pendidik bangsanya.
2.       membangkitkan perhatian anggota-anggotanya dan orang luar untuk menghargai adapt istiadat, seni, bahasa, kerajinan, pertanian dan Sejarah Sumatra. Untuk mencapai tujuan itu, dilakukan usaha-usaha sebagai berikut:
a.       menghilangkan adanya perasaan prasangka etnis di kalangan orang-orang Sumatera;
b.      memperkuat perasaan saling membantu;
c.        bersama-sama mengangkat derajat penduduk Sumatra dengan alat propaganda, kursus, ceramah-ceramah dan sebagainya.
Berdirinya Jong Sumatranen Bond ternyata dapat diterima oleh pemuda-pemuda Sumatera yang berada di kota-kota lainnya. Oleh karena itu, dalam waktu singkat organisasi ini sudah mempunyai cabng-cabangnya di Jakatra, Bogor, Serang, Sukabumi, Bandung, Purworejo, dan Bukittinggi. Dari organisasi inilah kemudian muncul tokoh-tokoh nasional seperti Moh. Hatta, Muh. Yamin, dan Sutan Syahrir. Atas kesadaran nasionalisme, nama Jong Sumatranen Bond yang menggunakan istilah bahasa Belanda, diubah menjadi Pemoeda Soematra

8.      Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging)
Perhimpunan Indonesia didirikan tahun 1908 oleh mahasiswamahasiswa Indonesia yang belajar di negeri Belanda. Mereka antara lain: R.P Sosrokartono, R. Hoesein Djajadiningrat, R.N Notosuroto, Notodiningrat, Sutan Kasyayangan Saripada, Sumitro Kolopaking, dan Apituley. Pada mulanya Perhimpunan Indonesia bernama Indische Vereeniging. Kegiatannya pada mulanya hanya terbatas pada penyelenggaraan pertemuan sosial dan para anggota ditambah dengan sekali-sekali mengadakan pertemuan dengan orang-orang Belanda yang banyak memperhatikan masalah Indonesia, antara lain: Mr. Abenendanon, Mr. van Deventer, dan Dr. Snouck Hurgronye. Kedatangan 3 tokoh Indische Partiij ke negeri Belanda yang dibuang oleh pemerintah kolonial (Cipto Mangunkusumo, R. M Suwardi Suryaningrat, E.F.E. Douwes Dekker) segera mengubah suasana dan semangat Indische Vereeniging. Tokoh IP tersebut membawa suasana politik ke dalam pikiran tokoh-tokoh Indische Vereeniging. Udara politik itu lebih segar lagi setelah datangnya Comite Indie Weerbaar (Panitia Ketahanan Hindia Belanda) yang dibentuk oleh pemerintah kolonial, sebagai usaha untuk mempertahankan Indonesia dari ancaman Perang Dunia I. Panitia ini terdiri atas R.Ng. Dwijosewojo (BU), Abdul Muis (SI), dan Kolonel RheMrev, seorang Indo-Belanda. Kedatangan tokoh-tokoh IP dan Comite Indie Weerbaar tersebut, memberikan dimensi pikiran baru bagi para mahasiswa Indonesia di negeri Belanda. Mereka bukan hanya dapat menuntut ilmu, tetapi juga harus memikirkan bagaimana dapat memperbaiki nasib bangsanya sendiri. Pada tahun 1912 Indische Vereeniging berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging dan akhirnya diubah lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (1924). Dengan perubahan itu, terjadi pula perubahan dasar pikiran dan orientasi dalam pergerakan mereka. Majalah mereka berganti nama menjadi Indonesia Merdeka (1924).
Terjadilah pergeseran cara berpikir dan gerakan yang radikal, dengan tegas mereka menginginkan Indonesia merdeka. Perhimpunan Indonesia semakin tegas bergerak memasuki bidang politik, terlihat dari asasnya yang dimuat dalam majalah Hindia Poetra, Maret 1923, yaitu “Mengusahakan suatu pemerintahan untuk Indonesia yang bertanggungjawab hanya kepada rakyat Indonesia semata-mata”. Hal yang demikian itu hanya dapat dicapai oleh orang Indonesia sendiri, bukan dengan pertolongan siapapun juga. Oleh karena itu, segala jenis perpecahan harus dihindarkan, supaya tujuan lekas tercapai. Dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya yang ke- 15, tahun 1924 mereka menerbitkan buku peringatan yang
berjudul Gedenkboek. Buku ini berisi 13 artikel yang ditulis oleh A.A. Maramis, Ahmad Soebardjo, Sukiman Wiryosanjoyo, Mohammad Hatta, Muhammad Natsir, Sulaiman, R. Ng. Purbacaraka, Darmawan Mangunkusumo, dan Iwa Kusumasumantri. Buku ini ternyata mengguncangkan dan menghebohkan pemerintahan Hindia Belanda. Setelah itu disusul lagi dengan dikeluarkannya pernyataan yang keras dari pengurus PI di bawah pimpinan Sukiman Wirjosanjoyo tentang prinsipprinsip yang harus dipakai oleh pergerakan kebangsaan untuk mencapai kemerdekaan. Aksi para anggota PI semakin radikal. Pengawasan terhadap gerakan mahasiswa Indonesia makin diperkuat oleh aparat kepolisian Belanda. Namun para anggota PI tetap melakukan kegiatan politiknya, bahkan mulai menjalin hubungan dengan berbagai negara di Eropa dan Asia. Konsepsi-konsepsi PI dan berita-berita tentang berbagai kejadian di Eropa dikirim ke Indonesia melalui majalah mereka, Indonesia Merdeka. Konsepsikonsepsi PI kelak sangat berpengaruh terhadap kaum pergerakan di Indonesia. Bahkan di bawah kepemimpinan Muhammad Hatta, PI resmi diakui sebagai front terdepan pergerakan kebangsaan oleh PPKI yang diketuai Ir. Soekarno. Pada Juni 1927, PI dituduh menjalin hubungan dengan PKI
untuk melakukan pemberontakan sehingga diadakan penggeledahan terhadap tokoh-tokoh PI. Pada September, 4 tokoh PI di negeri Belanda, ditangkap dan diadili. Mereka adalah Mohammad Hatta, Natzir Datuk Pamoncak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Majid Joyodiningrat. Di Indonesia sendiri, banyak organisasi yang lahir karena mendapat ilham dari
perjuangan PI, antara lain: Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Jong Indonesia (Pemuda Indonesia) 1928.

9.      Indische Partiij (1912)
Indische Partiij merupakan organisasi campuran orang Indo (peranakan Eropa-Indonesia) dengan pribumi. Indische Partiij didirikan oleh Dr.Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (Danu Dirjo Setyabudi) Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat, di Bandung tanggal 25 Desember 1912. Mereka terkenal dengan sebutan “Tiga Serangkai”. Indische Partiij adalah organisasi yang pertama bergerak dalam bidang politik dengan haluan asosiasi dan kooperasi. Tujuannya adalah Indonesia merdeka, dasarnya: nasionalisme indische, semboyannya: “Indie untuk Indier”. Karena sifatnya yang progesif dan tegas, yakni ingin merdeka, pemerintahan Hindia Belanda cemas. Bahkan, pada Agustus 1913 para pemimpinnya ditangkap dan diasingkan ke negeri Belanda. Pada 4 Mei 1913, Indische Partiij dinyatakan
sebagai partai terlarang.

10.  Partai Nasional Indonesia

PNI didirikan di Bandung pada 4 Juli 1924 oleh kaum terpelajar yang dipimpin oleh Ir. Soekarno. Kaum muda terpelajar itu tergabung dalam Algemene Studieclub (Bandung) dan kebanyakan dari mereka adalah mantan anggota Perhimpunan Indonesia yang telah kembali ke tanah air. Keradikalan PNI sudah tampak sejak pertama didirikannya. Ini terlihat dari strategi perjuangannya yang berhaluan nonkooperasi. PNI tidak mau ikut dalam dewan-dewan yang diadakan oleh pemerintah. Tujuan PNI adalah kemerdekaan Indonesia dan tujuan itu akan dicapai dengan asas “percaya pada diri sendiri”. Artinya: memperbaiki keadaan politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang sudah dirusak oleh penjajahan, dengan kekuatan sendiri. Semua
itu akan dicapai melalui berbagai usaha, antara lain:
1.       usaha politik, yaitu dengan cara memperkuat rasa kebangsaan persatuan dan kesatuan. Memajukan pengetahuan sejarah kebangsaan, mempererat kerja sama dengan bangsa-bangsa Asia dan menumpas segala perintang kemerdekaan dan kehidupan politik. Dalam bidang politik, PNI berhasil menghimpun organisasi-organisasi pergerakan lainnya ke dalam satu wadah yang disebut Permufakatan Perhimpunan- Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia;
2.       usaha ekonomi, yaitu dengan memajukan perdagangan rakyaat, kerajinan atau industri kecil, bank-bank, sekolahsekolah, dan terutama koperasi;
usaha sosial, yaitu dengan memajukan pengajaran yang bersifat nasional, emngurangi pengangguran, mengangkat derajat kaum wanita, meningkatkan transmigrasi dan memperbaiki kesehatan rakyat. Gerakan PNI dipimpin oleh tokoh-tokoh berbobot, seperti Ir. Soekarno, Mr. Ali Sastroamijoyo, Mr. Sartono, yang berpengaruh luas di berbagai daerah di Indoenesia. Ir. Soekarno dengan keahliannya berpidato, berhasil menggerakkan rakyat sesuai dengan tujuan PNI. Pengaruh PNI juga sangat terasa pada organisasi-organisasi pemuda hingga melahirkan Sumpah Pemuda dan organisasi wanita yang melahirkan Kongres Perempuan di Yogyakarta pada 22 Desember 1928. Melihat gerakan dan pengaruh PNI yang semakin meluas, pemerintah kolonial menjadi cemas, maka dilontarkanlah bermacam-macam isu untuk menjelekkan PNI. Bahkan kemudian mengancam PNI agar menghentikan kegiatannya. Rupanya Belanda belum puas dengan tindakannya itu, maka PNI pun dituduh akan melakukan pemberontakan. Pemerintah Belanda melakukan penggeledahan dan penangkapan terhadap tokohtokoh PNI di seluruh wilayah Indonesia pada 24 Desember 1929. Akhirnya 4 tokoh teras PNI yaitu: Ir. Soekarno, R. Gatot Mangkoepradja, Markoen Soemadiredja, dan Soepiadinata diadili di Pengadilan Negeri Bandung dan dijatuhi hukuman penjara pada 20 Desember 1930. Peristiwa ini merupakan pukulan besar bagi PNI dan atas inisiatif Mr. Sartono pada Kongres Luar Biasa ke-2 (25 April 1931) PNI dibubarkan. Kemudian Sartono mendirikan Partai Indonesia (Partindo). Tetapi tindakan ini membawa perpecahan yang mendalam. Ketergantungan pada seorang pemimpin, dikritik habis oleh mereka yang menentang perubahan PNI. Mereka menyebut dirinya “Gerakan Merdeka”, kemudian membentuk partai baru, yaitu Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru. Dari sini muncul tokoh baru yaitu Sutan Syahrir (20 tahun) yang waktu itu masih menjadi mahasiswa di Amsterdam. Ia pulang ke Indonesia atas permintaan Moh. Hatta untuk menjadi ketua partai. Walaupun citacita dan haluan kedua partai itu sama, yaitu kemerdekaan dan nonkooperasi, tetapi strategi perjuangannyaberbeda. PNI Baru lebih menekankan pentingnya pendidikan kader.

11.  Gabungan Politik Indonesia
Muhammad Husni Thamrin adalah penggagas federasi nasional ini untuk membina kerjasama antarpartai politik. Pembentukan GAPI pada mulanya diusulkan oleh PSII pada April 1938 dengan pembentukan Badan Perantara Partai-Partai Politik Indonesia (BAPEPPI). Namun karena BAPEPPI tidak berjalan dengan baik, Parindra berinisiatif untuk membentuk kembali Konsentrasi Nasional. Percepatan terbentuknya federasi ini dikarenakan oleh: kegagalan Petisi Soetarjo, sikap pemerintah kolonial Belanda yang kurang memperhatikan kepentingan bangsa, dan semakin gawatnya situasi internasional sebagai akibat meningkatkannya pengaruh fasisme Nazi-Jerman. Parindra melihat bahwa perjuangan konsentrasi nasional harus mencakup dua sasaran yaitu: ke dalam dapat menyadarkan dan menggerakan rakyat untuk dapat memperoleh pemerintahan tersendiri; ke keluar dapat merubah pemerintahan Belanda untuk menyadari cita-cita bangsa Indonesia kemudian mengadakan perubahan-perubahan dalam pemerintahan di Indonesia. Selanjutnya Parindra melakukan pendekatan dan perundingan dengan sejumlah partai dan organisasi seperti PSII, Gerindo, PII, Paguyuban Pasundan, Persatuan Minahasa, dan Partai Katolik untuk membicarakan masa depan Indonesia. Tanggal 21 Mei terbentuklah Gabungan Politik Indonesia (GAPI) sebagai organisasi kerja sama partai-partai politik dan organisasi. Adapun tokoh-tokoh GAPI adalah Muhammad Husni Thamrin (Parindra), Mr. Amir Syarifudin (Gerindo), Abikusno Cokro Suyoso (PSII)  Langkah-langkah yang diambil GAPI adalah mendesak untuk dibentuknya parlemen, namun bukan parlemen seperti Volksraad yang sudah ada sejak 1918, serta membentuk Kongres Rakyat Indonesia (KRI) pada 25 Desember 1939 di Jakarta. Dengan tujuan untuk Indonesia merdeka yang bertemakan kesejahteraan rakyat dan yang mampu berparlemen penuh, KRI menghasilkan beberapa keputusan, antara lain:
1.       disetujuinya untuk melancarkan tuntutan Indonesia berparlermen penuh;
2.      ditetapkannya bendera Merah Putih sebagai bendera persatuan Indonesia, lagu ”Indonesia Raya” sebagai lagu persatuan, serat peningkatan pemakaian bahasa Indonesia bagi rakyat Indonesia dan ditetapkan sebagai bahasa persatuan. yang bertugas untuk menyelidiki dan mempelajari perubahanperubahan ketatanegaraan. Komisi tersebut dikenal dengan Komisi Visman, karena diketuai oleh Dr. F.H. Visman. Pembentukan komisi ini ditolak oleh anggota Volksraad, terlebih oleh GAPI, karena berdasarkan pengalaman akan komisi sejenis pada tahun 1918 yang tidak menghasilkan apa-apa bagi perbaikan nasib Indonesia. Untuk memperjelas tuntutan maka GAPI membentuk suatu panitia yang bertugas menyusun bentuk dan susunan ketatanegaraan Indonesia. Hasil panitia itu kemudian disampaikan dalam pertemuan antara wakil-wakil GAPI dengan Komisi Visman pada 14 Februari 1941. Pertemuan tersebut ternyata tidak menghasilkan hal-hal baru yang menuju perubahan ketatanegaraan Indonesia. Gagallah perjuangan GAPI dalam menyampaikan tuntutantuntutannya terhadap pemerintahan kolonial. Namun demikian, perjuangan GAPI sangat berarti dalam pergerakan nasional, yaitu berhasil dalam:
1.       memperjuangkan organisasi-organisasi pergerakan dalam satu wadah perjuangan;
2.       memperkuat rasa kebangsaan sebagai modal pokok untuk mewujudkan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

12.  Gabungan Politik Indonesia (GAPI)
Gabungan Politik Indonesia didirikan atas prakarsa Muhammad Husni Thamrin pada tanggal 21 Mei 1939. Pembentukan GAPI ini di antaranya dilatarbelakangi oleh:
1.      kegagalan Petisi Sutardjo;
2.      sikap pemerintah Kolonial Belanda yang kurang memperhatikan kepentingankepentingan bangsa;
3.       semakin gawatnya situasi internasional sebagai akibat meningkatnya pengaruh fasisme.
Petisi Sutardjo adalah petisi yang diajukan oleh Sutardjo dalam dewan rakyat (Volksraad). Ia mengusulkan kepada pemerintah Hindia-Belanda agar diadakan konferensi Kerajaan Belanda untuk membahas status politik Hindia- Belanda dalam 10 tahun mendatang yang berupa status otonomi. Hal itu dimaksudkan agar tercapai kerja sama yang mendorong rakyat untuk menentukan kebijakan politik, ekonomi, dan sosial. Petisi itu tidak seluruhnya diterima oleh anggota dewan. Hal itu disebabkan petisi dianggap merendahkan martabat bangsa dengan jalan meminta-minta pada Pemerintah Hindia-Belanda. Secara mayoritas, anggota dewan menyetujui petisi ini, tetapi pemerintah Hindia- Belanda berpandangan lain. Usulan dalam petisi itu dianggap tidak wajar dan masih terlalu prematur.
13.  PKI (Partai Komunis Indonesia)
Benih-benih paham Marxisme dibawa masuk ke Indonesia oleh seorang Belanda yang bernama H.J.F.M Sneevliet. Dengan keahliannya, Sneevliet dapat mempengaruhi dan membawa Vereniging van Spoor en Tramweg Personeel (VSTP) ke arah yang lebih radikal. VSTP ini merupakan serikat pekerja jawatan kereta api, sarikat buruh tertua di Indonesia. Kemudian pada 9 Mei 1914, Sneevliet bersama-sama dengan J.A Brandsteder, H.W Dekker dan P. Bersgma (tokoh sosialis) berhasil mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV). Karena ISDV tidak bisa berkembang, maka Sneevliet menyusupkan kaderkadernya ke dalam Sarikat Islam. Di situ ia melakukan infiltrasi dengan cara menjadikan anggota-anggotan ISDV sebagai anggota SI dan sebaliknya menjadikan anggota-anggota SI menjadi anggota ISDV. Dengan cara ini, Sneevliet dan kawan-kawannya telah mempunyai pengaruh yang kuat di kalangan SI. Lebih-lebih setelah berhasil mengambil alih beberapa pemimpin muda SI menjadi ISDV, yaitu Semaun dan Darsono. Mereka inilah yang dididik secara khusus, untuk menjadi tokoh-tokoh Marxisme tulen. Akibatnya SI cabang Semarang yang sudah berada di bawah pengaruh ISDV semakin jelas warna Marxisme-nya. Lebih-lebih ketika Darsono diangkat menjadi propagandis resmi Centraal Sarekat Islam dan Semaun sebagai komisaris Jawa Tengah. Karena pengaruh dari suksesnya Revolusi Rusia (1917) yang dilandasi oleh marxisme dan berubahnya Sociaal Democratische Arbieders Partij (SDAP atau Partai Buruh Sosial Demokrat) pada tahun 1918 menjadi Indische Communistische Partij atau Partai Komunis Hindia, maka beberapa anggota di dalam ISDV mengusulkan untuk mengikuti jejak itu. Dalam kongres ISDV ke-7 bulan Mei 1920 dibicarakan usul untuk menggantikan ISDV menjadi Perserikatan Komunis Hindia (Indonesia). Karena ada kelompok yang tidak setuju (hartogh), maka diadakanlah pemungutan suara. Hasilnya, kelompok pendukung usul yang disponsori oleh Adolf Baars, Bergsma, Semaun dan kawan-kawan menang, sehingga pada tanggal 23 Mei 1920 ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Kemudian pada Desember 1920 ISDV berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan susunan pengurus sebagai berikut:
Ketua : Semaun
 Wakil Ketua : Darsono
Sekretaris : Bergsma (Belanda)
Bendahara : Dekker (Belanda)
Anggota Pengurus : Baars (Belanda), Sugono, Tan Malaka, dan lain-lain.

Karena merasa bahwa dirinya telah besar, pada 1926, PKI mulai melancarkan petualangan politiknya. Pada 13 November 1926, PKI melancarkan pemberontakan di Jakarta dan disusul dengan tindakan-tindakan kekerasan di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa timur. Tetapi dalam waktu singkat pemberontakan itu dapat ditumpas. Akibatnya ribuan rakyat ditangkap, dipenjarakan dan dibuang ke Tanah Merah, Digul Atas, Irian Jaya.







Sabtu, 08 Juni 2013

STOP CIGARRETES ADVERTISEMENT NOW!

“Remaja hari ini adalah calon pelanggan tetap hari esok karena mayoritas perokok memulai merokok ketika remaja…” (Laporan Peneliti Myron E. Johnson ke Wakil Presiden Riset dan Pengembangan Phillip Morris)

Kami adalah anak muda yang sangat mencintai Indonesia. Kemajuan negeri ini juga harus dilakukan bersama, bukan seorang diri.

Keprihatinan kami dan teman-teman lainnya teramat dalam dengan tingginya perokok di Indonesia seakan orang Indonesia tidak peduli pada kesehatannya. Namun, ini keadaan ini terjadi tidak lepas akibat iklan-iklan rokok yang saat ini begitu massif bebas leluasa “merayu” kita semua untuk menjadi perokok.

Industri rokok menggunakan semua jenis iklan untuk mempromosikan produknya di semua media, baik media cetak, elektronik, online, sampai media luar ruang. Kelemahan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2003 Tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan masih memperbolehkan industri rokok beriklan di seluruh media (pasal 16 ayat 1). BATASAN yang ada hanyalah pada jam tayang iklan di televisi, yakni dari mulai pukul 21.30 – 05.00 (pasal 16 ayat 3) serta larangan menampilkan bentuk rokok dan orang yang sedang merokok (pasal 17). Namun, batasan ini terbukti tidak efektif dalam membatasi periklanan rokok di Indonesia, justru hanya membuat iklan rokok semakin kreatif untuk mencari cara lain.

Yang ironis, rata-rata remaja mulai merokok pada usia 14 tahun, 31,5 persen remaja mulai merokok usia 15 tahun, 1,9 persen pada usia 4 tahun, 46,3 persen remaja berpendapat iklan rokok memiliki pengaruh yang besar untuk mulai merokok, dan 29 persen remaja perokok menyalakan rokoknya ketika melihat iklan rokok pada saat tidak merokok.* Paparan iklan rokok di semua ruang sejak kanak-kanak juga membuat anak-anak menganggap merokok adalah hal yang biasa/wajar, terlebih dengan pencitraan yang dibangun oleh iklan-iklan rokok seakan “menantang” anak-anak dan remaja untuk segera terlihat dewasa dan keren dengan merokok.

Kenyataannya, saat ini sudah tidak ada lagi ruang yang aman bagi anak dan remaja dari iklan rokok. Mereka terpapar iklan-iklan rokok dimanapun mereka berada; disekitar sekolah, sepanjang jalan menuju sekolah, warung-warung sekitar rumah, jalanan menuju sekolah, di taman-taman, di mall, di tempat mereka berolahraga, juga di tempat rekreasi. Akibatnya, kita bisa dengan mudah menemukan anak-anak atau remaja merokok di gang-gang tersempit sekalipun, bahkan yang masih usia balita. Apakah tidak malu kita mendapat sebutan “Baby Smoker Country”? Apakah tidak sedih Indonesia “melahirkan” perokok-perokok muda dengan cepat dibanding negara-negara lain? Apa belum cukup kita menempati posisi dengan jumlah perokok tertinggi di dunia setelah Cina dan India? Apa tidak juga cukup keuntungan industri rokok yang didapat dari sepertiga penduduk Indonesia yang telah menjadi pelanggan setia produk adiktifnya?

Maka jalan paling efektif mencegah adik-adik kami mulai merokok adalah dengan PELARANGAN TOTAL IKLAN ROKOK. Stop iklan rokok sekarang juga dan bersihkan Indonesia dari segala promosi produk yang berbahaya bagi kesehatan. Indonesia tidak boleh kehilangan bonus demografi dari anak-anak yang sekarang jadi sasaran iklan rokok demi membela industri rokok agar mereka mendapat “pelanggan baru setia”. Indonesia tidak boleh lagi tertinggal dari negara-negara tetangga yang sudah lebih maju dalam memberikan perlindungan kesehatan kepada rakyatnya (Singapura, Thailand, Vietnam, Singapura, Filipina, Kamboja, dan Laos sudah menerapkan pelarangan iklan rokok di negaranya).

Karena itu, kami bersama teman-teman remaja lainnya, meminta dengan segala hormat kepada Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Republik Indonesia agar secara tegas menerapkan STOP TOTAL (bukan pembatasan!) iklan rokok di semua media penyiaran. Begitu juga dengan Pemerintah Daerah DKI Jakarta agar tidak lagi memberikan ijin penayangan iklan rokok di media luar ruang (billboard, videotron, dan bentuk lainnya) di seluruh wilayah DKI Jakarta sebagai contoh daerah-daerah lain. Semua ini bertujuan agar anak-anak Indonesia tidak lagi menjadi taruhan bisnis demi keuntungan semata dari iklan-iklan rokok di seluruh media penyiaran dan media luar ruang yang justru akan mempertaruhkan masa depan mereka kelak.

Melindungi anak dan remaja dari dampak bahaya tembakau adalah investasi jangka panjang bagi bangsa ini. STOP IKLAN ROKOK sekarang demi masa depan bangsa Indonesia.

*) Sumber: Komnas Anak, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof DR. Uhamka.