Perbedaan Sosialisme dan Komunisme
1. Sosialisme
Istilah sosialisme atau sosialis dapat mengacu ke beberapa hal yang berhubungan dengan ideologi atau kelompok ideologi, sistem ekonomi, dan negara. Istilah ini mulai digunakan sejak awal abad ke-19. Dalam bahasa Inggris, istilah ini digunakan pertama kali untuk menyebut pengikut Robert Owen pada tahun 1827. Di Perancis, istilah ini mengacu pada para pengikut doktrin Saint-Simon pada tahun 1832 yang dipopulerkan oleh Pierre Leroux dan J. Regnaud dalam l'Encyclopédie Nouvelle. Penggunaan istilah sosialisme sering digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda-beda oleh berbagai kelompok, tetapi hampir semua sepakat bahwa istilah ini berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan buruh tani pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 berdasarkan prinsip solidaritas dan memperjuangkan masyarakat egalitarian yang dengan sistem ekonomi menurut mereka dapat melayani masyarakat banyak daripada hanya segelintir elite.
Sosialisme sebagai ideologi
Menurut penganut Marxisme, terutama Friedrich Engels, model dan gagasan sosialis dapat dirunut hingga ke awal sejarah manusia dari sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Pada masa pencerahan abad ke-18, para pemikir dan penulis revolusioner seperti Marquis de Condorcet, Voltaire, Rousseau, Diderot, Abbé de Mably, dan Morelly, mengekspresikan ketidakpuasan mereka atas berbagai lapisan masyarakat di Perancis.
Sejak abad ke-19, sosialisme telah berkembang ke banyak aliran yang berbeda, yaitu:
* Anarkisme, terutama Sosialisme libertarian
* Anarko-Sindikalisme
* Komunisme
* Marhaenisme
* Marxisme
* Sindikalisme
* Sosialisme Afrika
* Sosialisme Arab
* Sosialisme Demokratik
* Sosialisme International
* Sosialisme Kristen
* Sosialisme Utopia
Gerakan
sosio-politik maupun intelektual dalam Marxis-Sosialis dapat dikelompokkan lagi
menjadi:
* Albanianisme
* Komunisme konsiliasi
* Juche
* Kastroisme
* Komunisme kiri
* Leninisme
* Maoisme
* Marxis humanisme
* Situasionisme
* Stalinisme
* Trotskyisme
Sosialisme sebagai sistem ekonomi
Sistem ekonomi sosialisme sebenarnya cukup sederhana. Berpijak pada konsep Karl Marx tentang penghapusan kepimilikan hak pribadi, prinsip ekonomi sosialisme menekankan agar status kepemilikan swasta dihapuskan dalam beberapa komoditas penting dan menjadi kebutuhan masyarakat banyak, seperti air, listrik, bahan pangan, dan sebagainya.
Sejumlah pakar ekonomi dan sejarah telah mengemukakan beberapa masalah yang berkaitan dengan teori sosialisme. Diantaranya antara lain Milton Friedman, Ayn Rand, Ludwig von Mises, Friedrich Hayek, dan Joshua Muravchik.
Kritik dan keberatan tentang sosialisme dapat dikelompokkan menjadi:
* Insentif
* Harga
* Keuntungan dan kerugian
* Hak milik pribadi
2. Komunisme
* Albanianisme
* Komunisme konsiliasi
* Juche
* Kastroisme
* Komunisme kiri
* Leninisme
* Maoisme
* Marxis humanisme
* Situasionisme
* Stalinisme
* Trotskyisme
Sosialisme sebagai sistem ekonomi
Sistem ekonomi sosialisme sebenarnya cukup sederhana. Berpijak pada konsep Karl Marx tentang penghapusan kepimilikan hak pribadi, prinsip ekonomi sosialisme menekankan agar status kepemilikan swasta dihapuskan dalam beberapa komoditas penting dan menjadi kebutuhan masyarakat banyak, seperti air, listrik, bahan pangan, dan sebagainya.
Sejumlah pakar ekonomi dan sejarah telah mengemukakan beberapa masalah yang berkaitan dengan teori sosialisme. Diantaranya antara lain Milton Friedman, Ayn Rand, Ludwig von Mises, Friedrich Hayek, dan Joshua Muravchik.
Kritik dan keberatan tentang sosialisme dapat dikelompokkan menjadi:
* Insentif
* Harga
* Keuntungan dan kerugian
* Hak milik pribadi
2. Komunisme
Komunisme adalah salah satu ideologi di dunia, selain kapitalisme dan ideologi lainnya. Komunisme lahir sebagai reaksi terhadap kapitalisme di abad ke-19, yang mana mereka itu mementingkan individu pemilik dan mengesampingkan buruh.
Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan Marxisme. Komunisme adalah ideologi yang digunakan partai komunis di seluruh dunia. Racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut "Marxisme-Leninisme".
Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal dengan proletar, namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil jika bernaung di bawah dominasi partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi "tumpul" dan tidak lagi diminati.
Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata. Komunisme sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya, dan karenanya komunisme juga disebut anti liberalisme.
Komunisme sebagai ideologi mulai diterapkan saat meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917. Sejak saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke negara lain. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos.
Maoisme
Ideologi komunisme di Tiongkok agak lain daripada dengan Marxisme-Leninisme yang diadopsi bekas Uni Soviet. Mao Zedong menyatukan berbagai filsafat kuno dari Tiongkok dengan Marxisme yang kemudian ia sebut sebagai Maoisme. Perbedaan mendasar dari komunisme Tiongkok dengan komunisme di negara lainnya adalah bahwa komunisme di Tiongkok lebih mementingkan peran petani daripada buruh. Ini disebabkan karena kondisi Tiongkok yang khusus di mana buruh dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kapitalisme.
Indonesia dan komunisme
Indonesia pernah menjadi salah satu kekuatan besar komunisme dunia. Kelahiran PKI pada tahun 1920an adalah kelanjutan fase awal dominasi komunisme di negara tersebut, bahkan di Asia. Tokoh komunis internasional seperti Tan Malaka misalnya. Ia menjadi salah satu tokoh yang tak bisa dilupakan dalam perjuangan di berbagai negara seperti di China, Indonesia, Thailand, dan Filiphina. Bukan sperti Vietnam yang mana perebutan kekuatan komunisme menjadi perang yang luar biasa. Di Indonesia perubuhan komunisme juga terjadi dengan insiden berdarah dan dilanjutkan dengan pembantaian yang banyak menimbulkan korban jiwa. Dan tidak berakhir disana, para tersangka pengikut komunisme juga diganjar eks-tapol oleh pemerintahan Orde Baru dan mendapatkan pembatasan dalam melakukan ikhtiar hidup mereka.
PERKEMBANGAN PAHAM-PAHAM BARU DAN PENGARUHNYA TERHADAP KESADARAN DAN PERGERAKAN NASIONALISME DI INDONESIA
A.
Munculnya Paham Nasionalisme, Demokrasi, Liberalisme, Sosialisme, Komunisme,
Serta Pan Islamisme
1. Nasionalisme
a. Pengertian
-
Menurut Otto Bouer, nasionalisme muncul karena adanya
persamaan sikap dan tingkah laku dalam memperjuangkan nasib yang sama,
sedangkan
-
Hans Kohn berpendapat bahwa nasionalisme adalah suatu
paham yang menempatkan kesetiaan tertinggi individu kepada Negara dan bangsa.
Semen
-
Ernest Renant menyatakan, nasionalisme ada ketika
muncul keinginan untuk bersatu
Tumbuh dan berkembangnya nasionalisme modern, pada dasarnya
disebabkan karena struktur sosial tradisional dengan sistem hubungan yang
didasarkan pada persamaan–persamaan yang bersifat primordialistik itu dipandang
tidak cocok lagi dengan perkembangan keadaan alam dan zaman karena basis dasarnya
dinilai terlalu konservatif dan dapat menimbulkan halhal yang bersifat
chauvinistik atau nasionalisme yang berlebihan, antagonistik, serta
ketertutupan negara terhadap pengaruh Negara lain. Selain itu, sebab lain
lahirnya nasionalisme adalah penaklukan negara bangsa lain oleh negara tertentu
yang mengakibatkan kesengsaraan bagi masyarakat negara bangsa yang ditaklukan.
2.
Demokrasi
Demokrasi berasal dari kata demos yang artinya rakyat, dan kratos
yang berarti pemerintahan. Jadi, demokrasi berarti pemerintahan “dari rakyat
untuk rakyat”. Prinsip-prinsip yang mendasari ide demokrasi adalah
konstitusionalisme, kedaulatan rakyat, aparat yang bertanggungjawab, jaminan
kewajiban sipil, pemerintah berdasarkan undang-undang, dan asas mayoritas
Demokrasi sudah ada pada jaman Yunani kuno, yang dikenal dengan demokrasi
langsung, dimana rakyat seluruhnya bias langsung atau memutuskan suatu perkara.
Hal ini dimungkinkan karena saat itu di Yunani masih berbentuk negara-kota
(polis) yang penduduknya sekitar 30 orang per polis. Pada Revolusi Amerika
tahun 1776 dalam Declaration of Independence, menyatakan bahwa tidak ada
kekuasaan yang adil tanpa persetujuan rakyat
3. Liberalisme
Liberal berasal dari kata “liberty”, yang berarti kebebasan.
Kebebasan dalam arti kemerdekaan pribadi, hak untuk mendapatkan perlindungan,
dan kebebasan dalam menentukan sikap. Liberalisme adalah suatu aliran pemikiran
yang mengharapkan kemajuan dalam berbagai bidang atas dasar kebebasan individu
yang dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya sebebas mungkin, Beberapa tokoh yang bisa
dianggap sebagai penganut dan yang mengembangkan paham liberalisme, yaitu:
a.
John Locke. Menurut pendapatnya, negara terbentuk dari perjanjiann sosial
antara individu dengan yang hidup bebas dengan penguasa.
b.
Montesquieu. Dalam bukunya spirit the law, terdapat pemisahan kekuasaan dalam
pemerintahan yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Tujuannya agar
terdapat pengawasan antar lembaga agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang
4. Sosialisme
Sosialisme ialah paham yang menghendaki suatu masyarakat dibentuk
secara kolektif (oleh kita, untuk kita). Titik berat dari paham ini ada pada
masyarakat, bukan individu. Dan dalam hal ini sosialisme merupakan lawan dari
liberalisme. Pada awalnya sosialisme muncul sebagai reaksi atas liberalisme
abad ke-19. Pendukung liberalisme adalah kelas menengah (middle class), yang
oleh Karl Marx disebut kaum “borjuis”. Kelas menengah ini adalah memiliki
industri, perdagangan dan memiliki pengaruh dalam masyarakat dan pemerintah.
Ketertindasan kaum buruh oleh para pemilik modal (kapital) menimbulkan reaksi
golongan kelas menengah, yang sampai sekarang dikenal dengan istilah gerakan
sosialisme. Tujuannya menghilangkan pertentangan antar kelas, kelas buruh dan
pemodal. Oleh Marx, sosialisme dikembangkan menjadi komunisme.
5. Komunisme
Paham ini lahir dari gagasan Karl Marx yang kemudian didengungkan
dan diperkenalkan oleh sahabat Marx, Friedrich Engels. Paham ini kemudian
dikembangkan oleh Lenin, pemimpin Uni Soviet. Dengan demikian, terkadang
komunisme disebut juga ajaran Marxisme atau Leninisme. Marxisme adalah ajaran
yang sangat menjiwai gerakangerakan sosialis-komunis dengan filsafat yang
materialistis (historis materialisme) dan dialektis materialisme serta
perjuangan kelas. Ajaran ini diteruskan oleh Vladimir Lenin menjadi paham
Marxisme-Leninisme yang di Indonesia dilarang oleh pemerintahan Orde Baru. Pada
awalnya marxisme adalah ilmu sejarah yang terdiri atas suatu sistem
konsep-konsep ilmiah baru yang memberikan kemungkinan mempelajari sejarah
sebagai sebuah ilmu, yang sebelumnya hanya menjadi ideologi atau filsafat
sejarah, bukan ilmu yang mandiri. Oleh Marx, paham ini disebut “materialism
sejarah” atau “materialisme historis”, sedangkan oleh Engels disebut materialisme
dialektis. Yang terpenting dalam ajaran Marx adalah perjuangan kelas, ajaran
basis-superstruktur masyarakat, dan revolusi. Menurut Marx, sejarah manusia
adalah sejarah yang berisi peperangan antarkelas. Gerakan kaum buruh merupakan
ekspresi dari perang tersebut karena kaum buruh sangat menghendaki penghapusan
kelas sosial. Kaum buruh menuntut agar pendapatan ekonomi semua manusia rata.
Kaum kapitalis ingin meningkatkan keuntungan dengan menekan biaya produksi,
sedangkan kaum proletar ingin meningkatkan pendapatannya
6. Pan Islamisme
Pan Islamisme merupakan penjelmaan modern dari ajaran tradisional
Islam mengenai persatuan antarumat Islam (al wahdah al-Islamiyyah atau
al-ittihad al-Islamiyyah). Ajaran ini menyebutkan bahwa kaum muslim termasuk ke
dalam umat Islam universal, di mana pun mereka berada. Persatuan pan- Islamisme
mengatasi berbagai perbedaan bahasa, budaya, atau etnis di kalangan muslim.
Penyeru awal gerakan pan-Islamisme adalah Sultan Abdul Hamid II yang menguasai
Kesultanan Usmani pada 1876 hingga 1909. Ia berusaha mempersatukan Islam di
bawah panji Usmani, namun setelah Usmani runtuh, pan-Islamisme pun redup Pan
Islamisme didengungkan kembali setelah kaum muslim terpecah-belah pada akhir
abad ke-19 dan ketika itu sebagian besar negeri muslim berada dalam cengkeraman
kolonialismeimperialisme. Menurut salah seorang penganjurnya, Jamaluddin
al-Afgani (1838-1897), keadaan kaum muslim yang tercerai-berai itu merupakan
salah satu kelemahan kaum muslim. Berkat peran Jamaluddin al-Afgani dalam kehidupan
politik dan keagamaan di banyak wilayah Islam (Turki, Mesir, India, Iran, dan
Asia Tengah), pan-Islamisme benar-benar menemukan personifikasi (model atau
perumpamaan) dan juru bicara yang kuat. Afgani menyadari bahwa umat muslim
secara keseluruhan tengah terancam oleh kolonialisme. Maka dari itu persatuan
yang kuat harus digalakkan di kalangan umat
B.
Perkembangan Paham-Paham Baru Dan Pengaruhnya Terhadap Kesadaran Dan
Pergerakannasionalisme Di Indonesia
1.
Latar Belakang Munculnya Paham Dan Kesadaran Nasional
Faktor internal
- Penjajahan
- Adanya kenangan kejayaan masa lalu
- Timbulnya kaum cerdik pandai / lahirnya golongan terpelajar ( mendapat pendidikan Barat dan Islam di luar Negeri )
- Kesadaran bangsa ( ingin hidup bebas dan merdeka )
- Menyebarnya paham-paham baru ( demokrasi, komunisme, Liberalisme dan sosialisme )
Faktor Eksternal
- Kesadaran pentingnya semangat Kebangsaan/nasionalisme
- Timbulnya anti imperialisme
- Peristiwa Perang Dunia ( kesadaran menentukan nasib sendiri
- Adanya Revolusi Perancis Lahirnya nasionalisme di Asia-Afrika
- Adanya Kemenangan Jepang atas Rusia (1905)
2.
Tujuan Nasionalisme atau Semangat Kebangsaan
a. Mempertahankan negara sendiri
b. Menghilangkan bentuk ekstrimisme (
tuntutan yang berlebihan ) dari Individu atau kelompok
3.
BENTUK PERGERAKAN NASIONAL
Perlawan bangsa Indonesia
diawal abad ke-20 tidak lagi dilakukan dengan peperangan, tetapi dengan
cara melalui organisasi-organisasi yang bergerak dibidang sosial, budaya,
ekonomi dan politik. Organisasi tersebut, disebut organisasi
Pergerakan Nasional ( bentuk Perlawanan terhadap kaum penjajah ) dengan
ciri-Ciri :
- Keanggotaan tidak berdasarkan suku tertentu
- Pemimpin berasal dari kalangan terdidik
- Mempunyai tujuan yang jelas
- Memiliki paham kebangsaan atau nasionalisme Nasionaslisme bangsa Indonesia mengalami perkembangan yang pesat Setelah berdirinya Budi Utomo
Strategi perjuangan disesuaikan dengan ciri khas masingmasing
organisasi. Secara umum, strategi itu dapat dibedakan atas
- Kooperatif : bersedia
bekerja sama dengan pemerintahan Belanda dan
- Nonkooperatif : menolak kerja sama
dengan pemerintah Belanda).
Bagi sebagian organisasi strategi itu relatif sifatnya,
disesuaikan dengan situasi yang dihadapi (bersifat pragmatis). Pada masa
tertentu mereka bersikap kooperasi, tetapi pada masa yang lain bersikap
nonkooperasi. Walaupun dua strategi namun tujuan akhir semua organisasi itu
sama, yakni mencapai kemerdekaan
A. Budi Utomo (1908)
Politik etis yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial
Belanda membawa dampak munculnya priyayi Jawa yang “baru” atau priyayi
rendahan, mereka memiliki pandangan bahwa kunci dari kemajuan adalah
pendidikan.kelompok inilah yang kemudia dianggap sebagai kelompok pembentuk
organisasi pergerakan yang benar-benar modern. Dilatarbelakangi kondisi ekonomi
yang buruk di Jawa, dr. Wahidin Sudiro Husodo pada tahun 1906-1907 barkeliling
pulau jawa, untuk memberikan penerangan tentang cita-citanya kepada para
pegawai Belanda dan dalam berusaha mencari dana untuk beasiswa bagi pelajar Indonesia yang
kurang mampu tapi cakap, dr. wahidin berkeinginan untuk mendirikan badan
pendidikan. yang
di sebut Studifonds. Usaha dr. Wahidin tidak mendapatkan tanggapan yang positif
dari pegawai pemerintahan Belanda. Namun usahanya mendapat respon dari para
pelajar. Usaha beliaulah yang merupakan pendorong bagi pelajar, untukmendirikan
organisasi.
Organisasi Budi Utomo berdiri tanggal 20 Mei 1908 oleh para
mahasiswa Sekolah Kedokteran (STOVIA) di Jakarta, yaitu Sutomo, Suraji, Gunawan
Mangunkusumo. Budi Utomo (BU) ini sejak awal sudah menetapkan bidang pendidikan
sebagai pusat perhatiannya, dengan wilayah Jawa dan Madura sebagai sasaran. Pro
dan kontra selalu mewarnai dalam kehidupan berorganisasi, tak terkecuali BU.
Yang kontra mendirikan organisasi tandingan Regent Bond, yang
anggota-anggotanya berasal dari kalangan bupati penganut status quo yang tidak
menginginkan perubahan. Sedang yang pro, antara lain Tirto Kusumo, merupakan
kalangan muda yang berpikiran maju.
B.
Sarekat Islam (1911)
Monopoli pedagang Cina dalam penjualan bahan baku dirasakanoleh pengusah batik Indonesia
di Solo sangat merugikan. Pedagang Cina seringkali mempermainkan harga, yaitu
dengan menjual bahan tersebut sedikit demi sedikit. Keadaan itu mendorong H.
Samanhudi di Solo, mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) yang bersifat
kooperatif pada tahun 1911. Karena sifatnya yang merakyat dan pertumbuhannya
yang pesat, pada 1912 atas usul Haji Oemar Said Cokroaminoto, namanya diubah
menjadi Sarekat Islam. Tujuannya pun diperluas lagi, antara lain:
1.
memajukan semangat dagang bangsa;
2.
memajukan kecerdasan dan kehidupan rakyat menurut perintah agama Islam;
3.
menghilangkan paham-paham yang keliru tentang agama Islam;
4.
mempertebal rasa persaudaraan dan saling tolong menolong.
Pada 26 Januari 1913 diadakan kongres Sarekat Islam yang pertama di Surabaya, yang dipimpin
oleh H.O.S. Cokroaminoto. Dalam kongres ini ditegaskan: SI bukan partai politik
dan tidak bereaksi melawan Belanda. Kongres kedua diselenggarakan di Solo.
Dalam kongres ini ditegaskan lagi bahwa SI terbuka hanya untuk bangsa Indonesia
rakyat biasa, sementara pegawai pangreh praja (yang bekerja pada instansi
pemerintah kolonial) tidak boleh masuk. Pada tahun 1915 di Surabaya didirikan Central Sarekat Islam
(CSI). Tujuannya untuk membantu SI daerah. Pada tanggal 17-24 juni 1916
diadakan kongres SI ketiga di Bandung,
yang diberi nama Kongres Nasional pertama. Dalam kongres itu, 80 cabang SI
daerah mengirimkan utusan yang mewakili 360.000 anggota. Sedangkan jumlah
anggota seluruhnya 800.000 orang dan terus meningkat hingga pada tahun 1919
anggotanya telah mencapai 2.250.000 orang. Namun, karena perbedaan ideologi dan
taktik yang dianut, dalam perkembangannya berikutnya SI pecah menjadi dua
kelompok, yakni:
1.
SI Putih, yang berlandaskan pada asas perjuangan yang
semula, yaitu Islam; dipimpin H.O.S. Cokroaminoto;
2.
SI Merah, yaitu kelompok anggota SI yang berhaluan
sosialis kiri yamg ingin bergerak secara radikal dan revolusione; dipimpin oleh
Darsono dan Semaun yang berasal dari kader ISDV. ISDV adalah akronim dari
Indische Sociaal Democratische Vereniging, organisasi berhaluan Marxisme yang
didirikan oleh sekelompok sosialis Belanda. Pada tahun 1923 SI meninggalkan
sikap kooperatif, menjadi nonkooperatif dengan mengubah namanya menjadi Partai
Sarikat Islam (PSI), kemudian pada tahun 1930 diubah menjadi Partai Sarikat
Islam Indonesia (PSII).
3. Taman Siswa
(1922)
Sejak dilaksanakan Politik Etis, pertambahan sekolah cukup banyak.
Akan tetapi, jumlah tersebut sangat tidak seimbang dengan jumlah penduduk Indonesia.
Sementara itu, secara garis besar metode pendidikan yang diterapkan pemerintah
tidah memberi peluang bagi tumbuhnya kebebasan berpikir. Siswa didik tidak
dibimbing untuk kreatif dan berkreasi. Dari sanalah muncul usaha-usaha untuk
memperbaiki sistem pendidikan yang ada, salah satunya adalah dengan berdirinya
Taman Siswa. Taman Siswa didirikan oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara)
pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Dalam
melaksanakan pendidikan, taman siswa berpedoman pada pernyataan asas yang
disusun pada tahun 1922. Pernyataan asas itu mengandung dasar kemerdekaan bagi
tiap-tiap orang untuk mengatur diri sendiri. Hal itu berarti mendidik siswa
untuk berpikir, berbuat, bekerja, dan berperan dalam batas-batas tujuan bersama
yang tertib dan damai. Taman Siswa memiliki sistem pendidikan yang dinamakan
dengan Tut Wuri Handayani, yakni bahwa dalam sistem ini guru bertindak sebagai
pemimpin yang berdiri di belakang, tetapi mempengaruhi dan memberi kesempatan
kepada anak didik untuk berjalan sendiri.
4. Muhammadiyah
Gerakan Muhamadiyah didirikan oleh H. Ahmad Dahlan diYogyakarta pada
tanggal 18 November 1912. Asas perjuangannya adalah Islam dan kebangsaan Indonesia.
Muhammadiyah bergerak dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial budaya yang
menjurus kepada tercapainya kebahagiaan lahir & batin. Tujuan pokoknya
ialah: menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujudnya
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Tujuan-tujuan Muhammadiyah yang
sifatnya operasional, antara lainnya:
1.
mengembalikan pendidikan dan pengajaran yang berlandaskan agama Islam;
2.
mengembalikan ajaran Islam sesuai Qur’an dan Hadis dan membolehkan adanya
ijtihad
3.
mengajak umat Islam untuk hidup selaras dengan ajaran agama Islam;
4.
berusaha meningkatkan kasejahteraan hidup umat manusia pada umumnya dan
umat Islam pada khususnya;
5.
menyantuni anak yatim piatu;
6.
membina dan menyiapkan generasi muda agar kelak dapat menjadi pemimpin-pemimpin
masyarakat, agama, dan bangsa yang adil dan jujur. Karena merupakan gerakan reformasi
Islam, Muhammadiyah tidak menghendaki adanya bid’ah, takhayul, klenik, dan
taqlid. Di
antara sekian usaha itu yang paling menonjol adalah usaha di bidang
pendidikan dan sosial, ditandai dengan banyaknya sekolah-sekolah
5.
Nahdlatul Ulama (NU)
Pusat penyebaran agama Islam di kota maupun di desa dikenal dengan nama
pesantren. Tamatan pesantren diharapakan dapat mendirikan pesantren di tempat
lainnya. Pada umumnya pesantren yang berpusat di pedesaan menjadi pusat
pengajaran agama Islam yang sudah tua sekali, sedangkan pusat pengembangan
Islam di kota
biasanya datang kemudian dan menjadi pusat pembaruan Islam. Dapat dikatakan
bahwa pusat agama Islam dan pengikutnya di pedesaan adalah para ulama dan
santri tradisionalis dan mereka yang tinggal di kota adalah pengikut modernis. Jadi, wadah
gerakan Islam tradisionalis sebenarnya sudah ada sejak lama. Makin meluasnya
gerakan Islam baru di kota-kota seperti yang dilakukan oleh Sarekat Islam dan
Muhammadiyah, berarti mengurangi ruang gerak umat Islam di pedesaan. Untuk
menampung dan memberikan wadah di pedesaan perlu dibentuk organisasi yang
secara resmi mengikat anggotanya untuk mencapai tujuan tertentu. Sementara itu,
pada tahun 1926 di Hejaz, Arab Saudi, diselenggarakan Kongres Islam sedunia.
Untuk menghadiri kongres itu masing-masing lembaga mengirim delegasinya hingga
terbentuk delegasi Hejaz. Para ulama terkemuka
terus membahas pemberian nama lembaga itu dan akhirnya Jam’iyatul Nahdlatul
Ulama pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya.
Delegasi Komite Hejaz mewakili NU. Delegasi itu sudah sah karena dikirim oleh
sebuah organisasi Islam. Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Para Ulama) adalah
organisasi sosial keagamaan atau Jamiyyah Diniyah Islamiyah yang didirikan oleh
para ulama, yaitu K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Abdullah Wahab Hasbullah, K.H.
Bisri Syamsuri, K.H. Mas Alwi, dan K.H. Ridwan. Mereka pemegang teguh pada
salah satu dari empat mahzab, berhaluan Ahlussunnah waljama’ah. Tujuannya tidak
saja mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam, tetapi juga memperhatikan
masalah sosial, ekonomi, dan sebagainya dalam rangka pengabdian kepada umat
manusia. Pada dasarnya Nahdlatul Ulama tidak mencampuri urusan politik dan
dalam kongresnya pada bulan oktober 1928 di Surabaya diambil keputusan untuk
menentang reformasi kaum modernis dan perubahan yang dilakukan wabahi di hejaz.
Kaum Islam reformis dalam beberapa hal bersikap seperti kaumnasionalis yang
tidak mengaitkan agama, misalnya dalam masalahperkawinan, keluarga, kedudukan
wanita, dan sebagainya. Pusatpusat NU ada di Surabaya,
Kediri,
Bojonegoro, Bondowoso, dan Kudus. Pada tahun 1935 NU sudah memilki 68 cabang dengan
anggotanya 6.700 orang.Di dalam Kongres NU di Menes (Banten) tahun 1938, jelas
NU berusaha meluaskan pengaruhnya di seluruh Jawa. Pada kongres tahun 1940 di Surabaya diputuskan
berdirinya bagian wanita, Nahdlatul Ulama Muslimat dan bagian Pemuda Anshor
(sudah dibentuk beberapa tahun sebelumnya). Pemuda Anshor didirikan berdasarkan
pan Islamisme. Oleh karena itu, Anshor berhaluan Internasional.
6.
Ahmadiyah
Gerakan Ahmadiyah Indonesia
didirikan oleh Mirza Wali Ahmad Beid pada bulan September 1929. Organisasi itu
berdasarkan pada Al-Quran sebagai kitab suci yang menjadi muhammad adalah nabi
penutup dan manusia harus mengikuti contoh perbuatannya, dan mengaku adanya
pembaharu (mujaddid) setelah Nabi Muhammad. Ahmadiyah muncul karena adanya
pengaruh dari Ahmadiyah di Kadian India yang didirikan oleh Mirza
Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai mujaddid pada tahun 1884. Ahmadiyah
menekankan kewajiban manusia untuk bertindak baik dengan penuh persaudaraan,
hormat-menghormati, ramah, dan sebagainya. Pada tahun 1908 terjadi perpecahan
karena salah seorang pemimpinnya, Kwayah Kamaludin mendirikan Ahmadiyah
berpusat di Lahore.
Ahmadiyah Kadiyan, dan Lahore sangat besar
pengaruhnya di Indonesia dan
Yogyakarta dijadikan pusatnya. Ahmadiyah di
Indonesia tidak mencampuri urusan politik dan hanya mempersoalkan prinsip
keagamaan dalam Islam. Pengaruh Ahmadiyah di kalangan pemuda dan pelajar yang
berpendidikan barat cukup kuat
7. Gerakan Pemuda yang Bersifat Kesukuan dan Keagamaan
a. Trikoro Dharmo/Jong Java
Gerakan pemuda Indonesia
sebenarnya telah dimulai sejak berdirinya Budi Utomo. Sebab para pendiri Budi
Utomo sebenarnya para pemuda yang masih menjadi murid-murid STOVIA. Namun sejak
kongresnya yang pertama, Budi Utomo telah diambil alih kaum priyayi (bangsawan)
dan para pegawai negeri, sehingga para pemuda kecewa lalu keluar dari Budi
Utomo. Pada 7 Maret 1915, para pemuda keluaran Budi Utomo mendirikan organisasi
pemuda yang disebut Trikoro Dharmo di Jakarta. Para
pemimpinnya antara lain: R. Sukiman Wiryosanjoyo (Ketua), Sunardi-Wongsonegoro
(wakil ketua), Sutomo (Sekretaris). Sementara itu, para anggotanya: Muslich,
Musodo, dan Abdul Rachman. Yang diterima sebagai anggota hanya anak-anak
sekolah menengah yang berasal dari pulau Jawa dan Madura. Trikoro Dharmo
artinya “Tiga Tujuan Mulia”, yaitu: sakti, budi, dan bakti. Adapun tujuan
organisasi ini ialah:
1.
mempererat tali hubungan, antara murid-murid bumi putera pada sekolah menengah
dan perguruan kejuruan;
2.
menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya;
3.
membangkitkan dan mempertajam perasaan buat segala bahasa dan kebudayaan
Hindia;
4.
memperkokoh rasa persatuan dan persatuan di antara pemuda-pemuda Jawa, Sunda,
Madura, Bali dan Lombok;
Pada tahun 1918 lewat kongresnya yang pertama di Solo, nama Trikoro
Dharmo diubah menjadi Jong Java. Hal ini dimaksudkan agar para pemuda di luar
Pulau Jawa, tata sosialnya berdasarkan budaya Jawa akan mau, memasuki Jong
Java. Kegiatan Jong Java berkisar pada masalah sosial dan kebudayaan, misalnya
pemberantasan buta huruf, kepanduan, kesenian. Jong Java tidak ikut terjun
dalam dunia politik dan tidak pula mencampuri urusan agama tertentu. Bahkan
para anggotanya dilarang menjalankan politik atau menjadi anggota partai
politik. Akan tetapi, sejak
tahun 1942, karena pengaruh gerakan radikal, maka Syamsuridjal
(ketuanya) mengusulkan agar anggota yang sudah berusia 18 tahun diberi
kebebasan berpolitik dan agar Jong Java memasukkan program memajukan agama
Islam. Usul ini ditolak, akibatnya para anggotanya yang menghendaki tujuan ke
dalam dunia politik dan ingin memajukan agam Islam mendirikan Jong Islamieten
Bond. Organisasi ini dipimpin Haji Agus Salim.
b. Jong Sumatranen Bond (9 Desember
1917)
Setelah Jong Java, para pemuda Sumatera yang belajar di Jakarta,
pada tanggal 9 Desember 1917 mendirikan organisasi serupa yang disebut Jong
Sumatranen Bond. Adapun tujuannya adalah:
1.
mempererat ikatan persaudaraan antara pemuda-pemuda pelajar Sumatra
dan membangkitkan perasaan bahwa mereka dipanggil untuk menjadi pemimpin dan
pendidik bangsanya.
2.
membangkitkan perhatian anggota-anggotanya dan orang luar untuk
menghargai adapt istiadat, seni, bahasa, kerajinan, pertanian dan Sejarah
Sumatra. Untuk mencapai tujuan itu, dilakukan usaha-usaha sebagai berikut:
a.
menghilangkan adanya perasaan prasangka etnis di kalangan orang-orang Sumatera;
b.
memperkuat perasaan saling membantu;
c.
bersama-sama mengangkat derajat penduduk Sumatra
dengan alat propaganda, kursus, ceramah-ceramah dan sebagainya.
Berdirinya Jong Sumatranen Bond ternyata dapat diterima oleh
pemuda-pemuda Sumatera yang berada di kota-kota lainnya. Oleh karena itu, dalam
waktu singkat organisasi ini sudah mempunyai cabng-cabangnya di Jakatra, Bogor, Serang, Sukabumi, Bandung, Purworejo, dan Bukittinggi. Dari
organisasi inilah kemudian muncul tokoh-tokoh nasional seperti Moh. Hatta, Muh.
Yamin, dan Sutan Syahrir. Atas kesadaran nasionalisme, nama Jong Sumatranen
Bond yang menggunakan istilah bahasa Belanda, diubah menjadi Pemoeda Soematra
8. Perhimpunan Indonesia (Indische
Vereeniging)
Perhimpunan Indonesia
didirikan tahun 1908 oleh mahasiswamahasiswa Indonesia yang belajar di negeri
Belanda. Mereka antara lain: R.P Sosrokartono, R. Hoesein Djajadiningrat, R.N
Notosuroto, Notodiningrat, Sutan Kasyayangan Saripada, Sumitro Kolopaking, dan
Apituley. Pada mulanya Perhimpunan Indonesia bernama Indische
Vereeniging. Kegiatannya pada mulanya hanya terbatas pada penyelenggaraan
pertemuan sosial dan para anggota ditambah dengan sekali-sekali mengadakan
pertemuan dengan orang-orang Belanda yang banyak memperhatikan masalah Indonesia,
antara lain: Mr. Abenendanon, Mr. van Deventer, dan Dr. Snouck Hurgronye.
Kedatangan 3 tokoh Indische Partiij ke negeri Belanda yang dibuang oleh pemerintah
kolonial (Cipto Mangunkusumo, R. M Suwardi Suryaningrat, E.F.E. Douwes Dekker)
segera mengubah suasana dan semangat Indische Vereeniging. Tokoh IP tersebut
membawa suasana politik ke dalam pikiran tokoh-tokoh Indische Vereeniging.
Udara politik itu lebih segar lagi setelah datangnya Comite Indie Weerbaar
(Panitia Ketahanan Hindia Belanda) yang dibentuk oleh pemerintah kolonial,
sebagai usaha untuk mempertahankan Indonesia dari ancaman Perang Dunia I.
Panitia ini terdiri atas R.Ng. Dwijosewojo (BU), Abdul Muis (SI), dan Kolonel
RheMrev, seorang Indo-Belanda. Kedatangan tokoh-tokoh IP dan Comite Indie
Weerbaar tersebut, memberikan dimensi pikiran baru bagi para mahasiswa Indonesia di
negeri Belanda. Mereka bukan hanya dapat menuntut ilmu, tetapi juga harus
memikirkan bagaimana dapat memperbaiki nasib bangsanya sendiri. Pada tahun 1912
Indische Vereeniging berganti nama menjadi Indonesische Vereeniging dan
akhirnya diubah lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (1924). Dengan perubahan
itu, terjadi pula perubahan dasar pikiran dan orientasi dalam pergerakan
mereka. Majalah mereka berganti nama menjadi Indonesia Merdeka (1924).
Terjadilah pergeseran cara berpikir dan gerakan yang radikal, dengan
tegas mereka menginginkan Indonesia
merdeka. Perhimpunan Indonesia
semakin tegas bergerak memasuki bidang politik, terlihat dari asasnya yang
dimuat dalam majalah Hindia Poetra, Maret 1923, yaitu “Mengusahakan suatu
pemerintahan untuk Indonesia
yang bertanggungjawab hanya kepada rakyat Indonesia semata-mata”. Hal yang demikian
itu hanya dapat dicapai oleh orang Indonesia sendiri, bukan dengan
pertolongan siapapun juga. Oleh karena itu, segala jenis perpecahan harus
dihindarkan, supaya tujuan lekas tercapai. Dalam rangka memperingati hari ulang
tahunnya yang ke- 15, tahun 1924 mereka menerbitkan buku peringatan yang
berjudul Gedenkboek. Buku ini berisi 13 artikel yang ditulis oleh
A.A. Maramis, Ahmad Soebardjo, Sukiman Wiryosanjoyo, Mohammad Hatta, Muhammad
Natsir, Sulaiman, R. Ng. Purbacaraka, Darmawan Mangunkusumo, dan Iwa
Kusumasumantri. Buku ini ternyata mengguncangkan dan menghebohkan pemerintahan
Hindia Belanda. Setelah itu disusul lagi dengan dikeluarkannya pernyataan yang
keras dari pengurus PI di bawah pimpinan Sukiman Wirjosanjoyo tentang
prinsipprinsip yang harus dipakai oleh pergerakan kebangsaan untuk mencapai
kemerdekaan. Aksi para anggota PI semakin radikal. Pengawasan terhadap gerakan
mahasiswa Indonesia
makin diperkuat oleh aparat kepolisian Belanda. Namun para anggota PI tetap
melakukan kegiatan politiknya, bahkan mulai menjalin hubungan dengan berbagai
negara di Eropa dan Asia. Konsepsi-konsepsi PI
dan berita-berita tentang berbagai kejadian di Eropa dikirim ke Indonesia
melalui majalah mereka, Indonesia Merdeka. Konsepsikonsepsi PI kelak sangat
berpengaruh terhadap kaum pergerakan di Indonesia. Bahkan di bawah
kepemimpinan Muhammad Hatta, PI resmi diakui sebagai front terdepan pergerakan
kebangsaan oleh PPKI yang diketuai Ir. Soekarno. Pada Juni 1927, PI dituduh
menjalin hubungan dengan PKI
untuk melakukan pemberontakan sehingga diadakan penggeledahan
terhadap tokoh-tokoh PI. Pada September, 4 tokoh PI di negeri Belanda,
ditangkap dan diadili. Mereka adalah Mohammad Hatta, Natzir Datuk Pamoncak, Ali
Sastroamidjojo, dan Abdul Majid Joyodiningrat. Di Indonesia sendiri, banyak
organisasi yang lahir karena mendapat ilham dari
perjuangan PI, antara lain: Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia
(PPPI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Jong Indonesia
(Pemuda Indonesia)
1928.
9. Indische Partiij (1912)
Indische Partiij merupakan organisasi campuran orang Indo (peranakan
Eropa-Indonesia) dengan pribumi. Indische Partiij didirikan oleh Dr.Ernest
Francois Eugene Douwes Dekker (Danu Dirjo Setyabudi) Dr. Cipto Mangunkusumo,
dan Suwardi Suryaningrat, di Bandung tanggal 25 Desember 1912. Mereka terkenal
dengan sebutan “Tiga Serangkai”. Indische Partiij adalah organisasi yang
pertama bergerak dalam bidang politik dengan haluan asosiasi dan kooperasi.
Tujuannya adalah Indonesia
merdeka, dasarnya: nasionalisme indische, semboyannya: “Indie untuk Indier”.
Karena sifatnya yang progesif dan tegas, yakni ingin merdeka, pemerintahan
Hindia Belanda cemas. Bahkan, pada Agustus 1913 para pemimpinnya ditangkap dan
diasingkan ke negeri Belanda. Pada 4 Mei 1913, Indische Partiij dinyatakan
sebagai partai terlarang.
10. Partai Nasional Indonesia
PNI didirikan di Bandung
pada 4 Juli 1924 oleh kaum terpelajar yang dipimpin oleh Ir. Soekarno. Kaum
muda terpelajar itu tergabung dalam Algemene Studieclub (Bandung)
dan kebanyakan dari mereka adalah mantan anggota Perhimpunan Indonesia yang
telah kembali ke tanah air. Keradikalan PNI sudah tampak sejak pertama
didirikannya. Ini terlihat dari strategi perjuangannya yang berhaluan
nonkooperasi. PNI tidak mau ikut dalam dewan-dewan yang diadakan oleh
pemerintah. Tujuan PNI adalah kemerdekaan Indonesia dan tujuan itu akan
dicapai dengan asas “percaya pada diri sendiri”. Artinya: memperbaiki keadaan
politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang sudah dirusak oleh penjajahan, dengan
kekuatan sendiri. Semua
itu akan dicapai melalui berbagai usaha, antara lain:
1.
usaha politik, yaitu dengan cara memperkuat rasa kebangsaan persatuan dan
kesatuan. Memajukan pengetahuan sejarah kebangsaan, mempererat kerja sama
dengan bangsa-bangsa Asia dan menumpas segala
perintang kemerdekaan dan kehidupan politik. Dalam bidang politik, PNI berhasil
menghimpun organisasi-organisasi pergerakan lainnya ke dalam satu wadah yang
disebut Permufakatan Perhimpunan- Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia;
2.
usaha ekonomi, yaitu dengan memajukan perdagangan rakyaat, kerajinan atau
industri kecil, bank-bank, sekolahsekolah, dan terutama koperasi;
usaha sosial, yaitu dengan memajukan pengajaran yang bersifat
nasional, emngurangi pengangguran, mengangkat derajat kaum wanita, meningkatkan
transmigrasi dan memperbaiki kesehatan rakyat. Gerakan PNI dipimpin oleh
tokoh-tokoh berbobot, seperti Ir. Soekarno, Mr. Ali Sastroamijoyo, Mr. Sartono,
yang berpengaruh luas di berbagai daerah di Indoenesia. Ir. Soekarno dengan keahliannya
berpidato, berhasil menggerakkan rakyat sesuai dengan tujuan PNI. Pengaruh PNI
juga sangat terasa pada organisasi-organisasi pemuda hingga melahirkan Sumpah
Pemuda dan organisasi wanita yang melahirkan Kongres Perempuan di Yogyakarta
pada 22 Desember 1928. Melihat gerakan dan pengaruh PNI yang semakin meluas,
pemerintah kolonial menjadi cemas, maka dilontarkanlah bermacam-macam isu untuk
menjelekkan PNI. Bahkan kemudian mengancam PNI agar menghentikan kegiatannya.
Rupanya Belanda belum puas dengan tindakannya itu, maka PNI pun dituduh akan
melakukan pemberontakan. Pemerintah Belanda melakukan penggeledahan dan
penangkapan terhadap tokohtokoh PNI di seluruh wilayah Indonesia pada
24 Desember 1929. Akhirnya 4 tokoh teras PNI yaitu: Ir. Soekarno, R. Gatot
Mangkoepradja, Markoen Soemadiredja, dan Soepiadinata diadili di Pengadilan
Negeri Bandung dan dijatuhi hukuman penjara pada 20 Desember 1930. Peristiwa
ini merupakan pukulan besar bagi PNI dan atas inisiatif Mr. Sartono pada
Kongres Luar Biasa ke-2 (25 April 1931) PNI dibubarkan. Kemudian Sartono
mendirikan Partai Indonesia
(Partindo). Tetapi tindakan ini membawa perpecahan yang mendalam.
Ketergantungan pada seorang pemimpin, dikritik habis oleh mereka yang menentang
perubahan PNI. Mereka menyebut dirinya “Gerakan Merdeka”, kemudian membentuk
partai baru, yaitu Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru. Dari sini
muncul tokoh baru yaitu Sutan Syahrir (20 tahun) yang waktu itu masih menjadi
mahasiswa di Amsterdam.
Ia pulang ke Indonesia
atas permintaan Moh. Hatta untuk menjadi ketua partai. Walaupun citacita dan
haluan kedua partai itu sama, yaitu kemerdekaan dan nonkooperasi, tetapi
strategi perjuangannyaberbeda. PNI Baru lebih menekankan pentingnya pendidikan
kader.
11. Gabungan Politik Indonesia
Muhammad Husni Thamrin adalah penggagas federasi nasional ini untuk
membina kerjasama antarpartai politik. Pembentukan GAPI pada mulanya diusulkan
oleh PSII pada April 1938 dengan pembentukan Badan Perantara Partai-Partai
Politik Indonesia (BAPEPPI). Namun karena BAPEPPI tidak berjalan dengan baik,
Parindra berinisiatif untuk membentuk kembali Konsentrasi Nasional. Percepatan
terbentuknya federasi ini dikarenakan oleh: kegagalan Petisi Soetarjo, sikap
pemerintah kolonial Belanda yang kurang memperhatikan kepentingan bangsa, dan
semakin gawatnya situasi internasional sebagai akibat meningkatkannya pengaruh
fasisme Nazi-Jerman. Parindra melihat bahwa perjuangan konsentrasi nasional
harus mencakup dua sasaran yaitu: ke dalam dapat menyadarkan dan menggerakan rakyat
untuk dapat memperoleh pemerintahan tersendiri; ke keluar dapat merubah
pemerintahan Belanda untuk menyadari cita-cita bangsa Indonesia kemudian mengadakan
perubahan-perubahan dalam pemerintahan di Indonesia. Selanjutnya Parindra
melakukan pendekatan dan perundingan dengan sejumlah partai dan organisasi
seperti PSII, Gerindo, PII, Paguyuban Pasundan, Persatuan Minahasa, dan Partai
Katolik untuk membicarakan masa depan Indonesia. Tanggal 21 Mei
terbentuklah Gabungan Politik Indonesia (GAPI) sebagai organisasi kerja sama
partai-partai politik dan organisasi. Adapun tokoh-tokoh GAPI adalah Muhammad
Husni Thamrin (Parindra), Mr. Amir Syarifudin (Gerindo), Abikusno Cokro Suyoso
(PSII) Langkah-langkah
yang diambil GAPI adalah mendesak untuk dibentuknya parlemen, namun bukan
parlemen seperti Volksraad yang sudah ada sejak 1918, serta membentuk Kongres
Rakyat Indonesia (KRI) pada 25 Desember 1939 di Jakarta. Dengan tujuan untuk Indonesia
merdeka yang bertemakan kesejahteraan rakyat dan yang mampu berparlemen penuh,
KRI menghasilkan beberapa keputusan, antara lain:
1.
disetujuinya untuk melancarkan tuntutan Indonesia berparlermen penuh;
2.
ditetapkannya bendera Merah Putih sebagai bendera persatuan Indonesia, lagu
”Indonesia Raya” sebagai lagu persatuan, serat peningkatan pemakaian bahasa
Indonesia bagi rakyat Indonesia dan ditetapkan sebagai bahasa persatuan. yang
bertugas untuk menyelidiki dan mempelajari perubahanperubahan ketatanegaraan.
Komisi tersebut dikenal dengan Komisi Visman, karena diketuai oleh Dr. F.H.
Visman. Pembentukan komisi ini ditolak oleh anggota Volksraad, terlebih oleh
GAPI, karena berdasarkan pengalaman akan komisi sejenis pada tahun 1918 yang
tidak menghasilkan apa-apa bagi perbaikan nasib Indonesia. Untuk memperjelas
tuntutan maka GAPI membentuk suatu panitia yang bertugas menyusun bentuk dan
susunan ketatanegaraan Indonesia.
Hasil panitia itu kemudian disampaikan dalam pertemuan antara wakil-wakil GAPI
dengan Komisi Visman pada 14 Februari 1941. Pertemuan tersebut ternyata tidak
menghasilkan hal-hal baru yang menuju perubahan ketatanegaraan Indonesia.
Gagallah perjuangan GAPI dalam menyampaikan tuntutantuntutannya terhadap
pemerintahan kolonial. Namun demikian, perjuangan GAPI sangat berarti dalam
pergerakan nasional, yaitu berhasil dalam:
1.
memperjuangkan organisasi-organisasi pergerakan dalam satu wadah
perjuangan;
2.
memperkuat rasa kebangsaan sebagai modal pokok untuk mewujudkan
kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.
12. Gabungan Politik Indonesia (GAPI)
Gabungan Politik Indonesia
didirikan atas prakarsa Muhammad Husni Thamrin pada tanggal 21 Mei 1939.
Pembentukan GAPI ini di antaranya dilatarbelakangi oleh:
1.
kegagalan Petisi Sutardjo;
2.
sikap pemerintah Kolonial Belanda yang kurang memperhatikan kepentingankepentingan
bangsa;
3.
semakin gawatnya situasi internasional sebagai akibat meningkatnya
pengaruh fasisme.
Petisi Sutardjo adalah
petisi yang diajukan oleh Sutardjo dalam dewan rakyat (Volksraad). Ia
mengusulkan kepada pemerintah Hindia-Belanda agar diadakan konferensi Kerajaan
Belanda untuk membahas status politik Hindia- Belanda dalam 10 tahun mendatang
yang berupa status otonomi. Hal itu dimaksudkan agar tercapai kerja sama yang
mendorong rakyat untuk menentukan kebijakan politik, ekonomi, dan sosial.
Petisi itu tidak seluruhnya diterima oleh anggota dewan. Hal itu disebabkan
petisi dianggap merendahkan martabat bangsa dengan jalan meminta-minta pada
Pemerintah Hindia-Belanda. Secara mayoritas, anggota dewan menyetujui petisi
ini, tetapi pemerintah Hindia- Belanda berpandangan lain. Usulan dalam petisi
itu dianggap tidak wajar dan masih terlalu prematur.
13.
PKI (Partai Komunis Indonesia)
Benih-benih paham Marxisme dibawa masuk ke Indonesia oleh
seorang Belanda yang bernama H.J.F.M Sneevliet. Dengan keahliannya, Sneevliet
dapat mempengaruhi dan membawa Vereniging van Spoor en Tramweg Personeel (VSTP)
ke arah yang lebih radikal. VSTP ini merupakan serikat pekerja jawatan kereta
api, sarikat buruh tertua di Indonesia.
Kemudian pada 9 Mei 1914, Sneevliet bersama-sama dengan J.A Brandsteder, H.W
Dekker dan P. Bersgma (tokoh sosialis) berhasil mendirikan Indische Sociaal
Democratische Vereniging (ISDV). Karena ISDV tidak bisa berkembang, maka
Sneevliet menyusupkan kaderkadernya ke dalam Sarikat Islam. Di situ ia
melakukan infiltrasi dengan cara menjadikan anggota-anggotan ISDV sebagai
anggota SI dan sebaliknya menjadikan anggota-anggota SI menjadi anggota ISDV.
Dengan cara ini, Sneevliet dan kawan-kawannya telah mempunyai pengaruh yang
kuat di kalangan SI. Lebih-lebih setelah berhasil mengambil alih beberapa
pemimpin muda SI menjadi ISDV, yaitu Semaun dan Darsono. Mereka inilah yang
dididik secara khusus, untuk menjadi tokoh-tokoh Marxisme tulen. Akibatnya SI
cabang Semarang
yang sudah berada di bawah pengaruh ISDV semakin jelas warna Marxisme-nya.
Lebih-lebih ketika Darsono diangkat menjadi propagandis resmi Centraal Sarekat
Islam dan Semaun sebagai komisaris Jawa Tengah. Karena pengaruh dari suksesnya
Revolusi Rusia (1917) yang dilandasi oleh marxisme dan berubahnya Sociaal
Democratische Arbieders Partij (SDAP atau Partai Buruh Sosial Demokrat) pada
tahun 1918 menjadi Indische Communistische Partij atau Partai Komunis Hindia,
maka beberapa anggota di dalam ISDV mengusulkan untuk mengikuti jejak itu. Dalam
kongres ISDV ke-7 bulan Mei 1920 dibicarakan usul untuk menggantikan ISDV
menjadi Perserikatan Komunis Hindia (Indonesia). Karena ada kelompok
yang tidak setuju (hartogh), maka diadakanlah pemungutan suara. Hasilnya,
kelompok pendukung usul yang disponsori oleh Adolf Baars, Bergsma, Semaun dan
kawan-kawan menang, sehingga pada tanggal 23 Mei 1920 ISDV menjadi Partai
Komunis Hindia. Kemudian pada Desember 1920 ISDV berubah menjadi Partai Komunis
Indonesia (PKI) dengan susunan pengurus sebagai berikut:
Ketua : Semaun
Wakil Ketua : Darsono
Sekretaris : Bergsma (Belanda)
Bendahara : Dekker (Belanda)
Anggota Pengurus : Baars (Belanda), Sugono, Tan Malaka, dan
lain-lain.
Karena merasa bahwa dirinya telah besar, pada 1926, PKI mulai
melancarkan petualangan politiknya. Pada 13 November 1926, PKI melancarkan
pemberontakan di Jakarta
dan disusul dengan tindakan-tindakan kekerasan di Banten, Jawa Barat, Jawa
Tengah, dan Jawa timur. Tetapi dalam waktu singkat pemberontakan itu dapat
ditumpas. Akibatnya ribuan rakyat ditangkap, dipenjarakan dan dibuang ke Tanah
Merah, Digul Atas, Irian Jaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar